Urusan Mba ini selalu jadi pikiran kalo abis Lebaran. Mikir-mikir, kira-kira pada balik engga ya abis Lebaran nanti. Meski rada yakin bakal pada balik sesuai apa yang dua mba di rumah bilang ke aku, tapi tetep aja ada rasa was-was. Ayahnya Faza sih jauh-jauh hari sudah bilang, "Jangan terlalu berharap..". Jadi mesti siap mental gitu lah ngadepin berbagai kemungkinan.
Dan mental itu memang beneran diuji. Satu mba balik lagi, sementara satunya liwat SMS mengabarkan engga balik lagi. Huhuhuhu.. jadi inget deh perjuangan tahun lalu, waktu abis Lebaran, dua mba juga ga pulang. Uuuffhhh.. mesti ngekos di rumah Uti sampe sebulanan tuh. Nyari kesana kemari. Tapi yah, mungkin juga karena udah pengalaman tahun lalu, jadi yah, sekarang mah dihadapi aja kalo memang gini.
Pencarian sudah dimulai ketika aku dapet SMS si mba ini. Kabar yang kuterima dari mba satunya sih, temennya ini pingin dapet kerja yang deket dengan adiknya. Yah sudahlah. Apapun alasannya, aku juga ga terlalu berharap banyak. Mungkin butuh penyegaran juga kali yak setelah setahun menggali pengalaman di rumahku. Tapi suatu ketika, selang beberapa hari, si mba ini sempet main ke rumah Uti, ketemu dengan kolega-koleganya. Kabarnya sih, dia pingin balik lagi kerja di rumahku karena ternyata batal pindah ke tempat kerja baru. Ya udah, di tengah masa pencarian ini, kubilang aja supaya kalo memang si mba ini pingin balik lagi, setidaknya ngabari aku aja dulu. tapi kabarnya sih doi udah terlanjur malu karena udah pamit ke aku sebelumnya.
Kadang sih suka ada harapan doi bakal nelpon dan minta ijin untuk balik lagi, ning ya harapan tinggal harapan. Apalagi terhitung sejak dua hari lalu, aku dapet mba lagi dari temenku. Sekarang sih masih masa penjajagan, secara masih tinggal di rumah Uti. Sekalian belajar sama Mala dan mbaknya Faza yang lama, yang bakal jadi temennya nanti.
ceritaku, pengalamanku, sahabatku, aksiku.. kisah sepanjang jaman. tak bertepi..
Wednesday, October 31, 2007
Tuesday, October 30, 2007
Keluar Flek Saat Hamil, Berbahayakah?
by Dr. Ratih Palupi
Keluar flek (bercak darah) dari vagina tentu membuat seorang ibu hamil cemas dan bertanya-tanya, apalagi bila baru pertama kali mengalaminya. Apakah flek tersebut adalah hal yang biasa saja? Ataukah sebuah tanda bahaya?
Apa yang dimaksud dengan keluar flek?
Keluar flek (disebut juga spotting) adalah perdarahan ringan yang bisa terjadi kapan saja pada saat hamil, terutama pada trimester pertama. Sekitar 20% wanita hamil mengalami spotting pada trimester pertama. Hal ini bisa jadi merupakan bagian alami dari kehamilan, namun perlu dipastikan dahulu bahwa tidak terjadi komplikasi.
Perdarahan adalah tanda tersering dari keguguran, sehingga setiap wanita hamil yang mengalami perdarahan dari vagina harus segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Yang dilakukan oleh Sita di atas sudah tepat. Jika Anda mengalami perdarahan banyak atau nyeri hebat dan tidak dapat segera menemui dokter/bidan, langsung datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) di rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Apa bedanya dengan perdarahan?
Jumlah darah yang keluar membedakan antara flek dengan perdarahan. Keluar flek adalah keluarnya sedikit bercak darah dari vagina berwarna merah atau kecoklatan, yang bisa jadi tidak sampai mengotori celana dalam. Sedangkan perdarahan jumlahnya lebih banyak daripada flek, dan mengotori celana dalam. Perdarahan jelas lebih serius daripada flek.
Keluar flek itu normal atau berbahaya?
Bagaimana membedakan keluar flek yang normal dan yang berbahaya? Jawabannya tergantung dari kapan terjadinya, jumlah darah yang keluar, lamanya, dan gejala lain (misalnya nyeri perut, keluarnya gumpalan darah atau jaringan, pingsan, lemas, demam). Flek darah yang dianggap normal adalah bila terjadi pada trimester pertama, jumlahnya sedikit dan tidak berlangsung lama (kurang dari 1 hari), serta tidak ada gejala lain.
Apa penyebabnya?
Dengan mengetahui penyebab keluar flek/perdarahan saat hamil, Anda dapat mengetahui gejala apa yang mesti dicari dan kapan meminta bantuan kepada tenaga medis. Penyebab keluar flek/perdarahan berbeda pada setiap trimester.
Perdarahan pada trimester pertama
Tidak selalu berarti ada masalah. Penyebab yang tidak berbahaya misalnya :
1. Melekatnya sel telur yang sudah dibuahi ke dinding rahim. Hal ini normal pada kehamilan. Jumlah darah yang keluar sangat sedikit.
2. Perubahan hormon: Keluar flek yang disebabkan oleh perubahan hormon saat hamil. 3. Biasanya terjadi pada minggu-minggu awal kehamilan, tetapi pada sebagian wanita dapat menetap sampai akhir kehamilan.
Penyebab lain yang lebih serius pada trimester pertama yaitu :
1. Keguguran: Perdarahan vagina merupakan tanda awal keguguran, disertai dengan nyeri perut.
2. Blighted ovum: Walaupun dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) terlihat tanda-tanda kehamilan di dalam rahim, namun embrio gagal berkembang sebagaimana mestinya.
3. Kehamilan ektopik: Sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim. Yang tersering adalah menempel di Tuba Falopii, sehingga tidak dapat berkembang karena kekurangan nutrisi. Tandanya antara lain nyeri perut dan perdarahan. Perdarahan akibat kehamilan ektopik sangat berbahaya karena bisa mengancam nyawa ibu.
4. Kehamilan mola atau kehamilan anggur: Pada keadaan ini, plasenta tidak terbentuk secara normal. Pada pemeriksaan USG dapat terlihat bukan janin yang berkembang, tetapi jaringan abnormal.
Perdarahan trimester kedua dan ketiga
Berbeda dengan trimester pertama, Anda perlu waspada bila terjadi perdarahan dari vagina pada trimester kedua atau ketiga karena biasanya menandakan adanya hal yang abnormal. Penyebab perdarahan pada trimester kedua atau ketiga antara lain :
1. Luka pada leher rahim, misalnya akibat berhubungan seksual atau pemeriksaan dalam yang terlalu kasar.
2. Penyakit pada vagina atau leher rahim, termasuk infeksi.
3. Mioma di rahim.
4. Penyebab yang lebih serius pada trimester kedua atau ketiga biasanya karena kelainan plasenta, yaitu: plasenta previa. Plasenta terletak di bagian bawah rahim sehingga menutupi mulut leher rahim. Tanda utamanya adalah keluar darah berwarna merah yang tidak disertai rasa nyeri, paling sering terjadi pada trimester ketiga.
5. Abrupsio plasenta: Sebagian atau seluruh plasenta terlepas dari perlekatannya pada dinding rahim. Darah yang keluar bisa sedikit atau banyak tetapi selalu disertai dengan nyeri perut hebat, paling sering terjadi pada trimester ketiga.
6. Partus prematur: Terjadinya pelebaran leher rahim pada kehamilan 20-37 minggu, disertai dengan kontraksi rahim.
7. Keguguran: Walaupun keguguran lebih banyak terjadi pada trimester pertama, masih terdapat risiko keguguran pada trimester berikutnya.
Apabila perdarahan terjadi setelah usia kehamilan 28 minggu, segera datang ke rumah sakit karena hal ini merupakan kedaruratan. Perdarahan yang terjadi jumlahnya bisa banyak atau sedikit, dan disertai atau tanpa nyeri perut. Jangan anggap remeh perdarahan ini karena perdarahan adalah salah satu penyebab terbesar kematian ibu di Indonesia.
Bagaimana mencegahnya?
Bisa tidak ya kita mencegah supaya tidak keluar flek? Tentunya dengan rajin kontrol ke dokter/bidan sejak awal kehamilan sehingga bisa mendeteksi dini adanya kelainan. Hindari rokok dan narkoba karena merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan saat hamil, sekaligus juga tidak baik bagi kesehatan Anda secara umum. Nah, apabila Anda mengalami keluar flek saat hamil, tenangkan diri Anda, sekaligus tetap waspada terhadap adanya tanda-tanda bahaya di atas.
Saatnya pergi ke UGD
Anda perlu langsung pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) di rumah sakit jika mengalami tanda-tanda bahaya di bawah ini :
1. Perdarahan yang banyak, atau nyeri perut dan kontraksi yang hebat
2. Keluar flek atau perdarahan yang sudah berlangsung lebih dari 24 jam, dan Anda tidak dapat menghubungi dokter
3. Pingsan, atau merasa sangat pusing dan lemas
4. Perdarahan yang disertai demam di atas 38,5oC
Pada perdarahan trimester pertama, pertama kali dokter akan mencari apakah terjadi kehamilan ektopik, namun pada perdarah-an trimester berikutnya dokter akan terlebih dulu meyakinkan apa-kah keadaan Anda stabil atau tidak akibat kehilangan darah. Selain pemeriksaan fisik, dilakukan juga pemeriksaan laboratorium dan USG, tergantung dari kondisi Anda saat itu.
Referensi:
1. Leveno KJ, Cunningham FG, Gant NF, et al. Williams manual of obstetrics. 21th ed. Singapore: Mcgraw-Hill (Asia), 2003.
2. Mayo Clinic. Vaginal bleeding during pregnancy. www.mayoclinic.com
3. E-medicine. Bleeding during pregnancy. www.emedicinehealth.com
Keluar flek (bercak darah) dari vagina tentu membuat seorang ibu hamil cemas dan bertanya-tanya, apalagi bila baru pertama kali mengalaminya. Apakah flek tersebut adalah hal yang biasa saja? Ataukah sebuah tanda bahaya?
Apa yang dimaksud dengan keluar flek?
Keluar flek (disebut juga spotting) adalah perdarahan ringan yang bisa terjadi kapan saja pada saat hamil, terutama pada trimester pertama. Sekitar 20% wanita hamil mengalami spotting pada trimester pertama. Hal ini bisa jadi merupakan bagian alami dari kehamilan, namun perlu dipastikan dahulu bahwa tidak terjadi komplikasi.
Perdarahan adalah tanda tersering dari keguguran, sehingga setiap wanita hamil yang mengalami perdarahan dari vagina harus segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Yang dilakukan oleh Sita di atas sudah tepat. Jika Anda mengalami perdarahan banyak atau nyeri hebat dan tidak dapat segera menemui dokter/bidan, langsung datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) di rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Apa bedanya dengan perdarahan?
Jumlah darah yang keluar membedakan antara flek dengan perdarahan. Keluar flek adalah keluarnya sedikit bercak darah dari vagina berwarna merah atau kecoklatan, yang bisa jadi tidak sampai mengotori celana dalam. Sedangkan perdarahan jumlahnya lebih banyak daripada flek, dan mengotori celana dalam. Perdarahan jelas lebih serius daripada flek.
Keluar flek itu normal atau berbahaya?
Bagaimana membedakan keluar flek yang normal dan yang berbahaya? Jawabannya tergantung dari kapan terjadinya, jumlah darah yang keluar, lamanya, dan gejala lain (misalnya nyeri perut, keluarnya gumpalan darah atau jaringan, pingsan, lemas, demam). Flek darah yang dianggap normal adalah bila terjadi pada trimester pertama, jumlahnya sedikit dan tidak berlangsung lama (kurang dari 1 hari), serta tidak ada gejala lain.
Apa penyebabnya?
Dengan mengetahui penyebab keluar flek/perdarahan saat hamil, Anda dapat mengetahui gejala apa yang mesti dicari dan kapan meminta bantuan kepada tenaga medis. Penyebab keluar flek/perdarahan berbeda pada setiap trimester.
Perdarahan pada trimester pertama
Tidak selalu berarti ada masalah. Penyebab yang tidak berbahaya misalnya :
1. Melekatnya sel telur yang sudah dibuahi ke dinding rahim. Hal ini normal pada kehamilan. Jumlah darah yang keluar sangat sedikit.
2. Perubahan hormon: Keluar flek yang disebabkan oleh perubahan hormon saat hamil. 3. Biasanya terjadi pada minggu-minggu awal kehamilan, tetapi pada sebagian wanita dapat menetap sampai akhir kehamilan.
Penyebab lain yang lebih serius pada trimester pertama yaitu :
1. Keguguran: Perdarahan vagina merupakan tanda awal keguguran, disertai dengan nyeri perut.
2. Blighted ovum: Walaupun dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) terlihat tanda-tanda kehamilan di dalam rahim, namun embrio gagal berkembang sebagaimana mestinya.
3. Kehamilan ektopik: Sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim. Yang tersering adalah menempel di Tuba Falopii, sehingga tidak dapat berkembang karena kekurangan nutrisi. Tandanya antara lain nyeri perut dan perdarahan. Perdarahan akibat kehamilan ektopik sangat berbahaya karena bisa mengancam nyawa ibu.
4. Kehamilan mola atau kehamilan anggur: Pada keadaan ini, plasenta tidak terbentuk secara normal. Pada pemeriksaan USG dapat terlihat bukan janin yang berkembang, tetapi jaringan abnormal.
Perdarahan trimester kedua dan ketiga
Berbeda dengan trimester pertama, Anda perlu waspada bila terjadi perdarahan dari vagina pada trimester kedua atau ketiga karena biasanya menandakan adanya hal yang abnormal. Penyebab perdarahan pada trimester kedua atau ketiga antara lain :
1. Luka pada leher rahim, misalnya akibat berhubungan seksual atau pemeriksaan dalam yang terlalu kasar.
2. Penyakit pada vagina atau leher rahim, termasuk infeksi.
3. Mioma di rahim.
4. Penyebab yang lebih serius pada trimester kedua atau ketiga biasanya karena kelainan plasenta, yaitu: plasenta previa. Plasenta terletak di bagian bawah rahim sehingga menutupi mulut leher rahim. Tanda utamanya adalah keluar darah berwarna merah yang tidak disertai rasa nyeri, paling sering terjadi pada trimester ketiga.
5. Abrupsio plasenta: Sebagian atau seluruh plasenta terlepas dari perlekatannya pada dinding rahim. Darah yang keluar bisa sedikit atau banyak tetapi selalu disertai dengan nyeri perut hebat, paling sering terjadi pada trimester ketiga.
6. Partus prematur: Terjadinya pelebaran leher rahim pada kehamilan 20-37 minggu, disertai dengan kontraksi rahim.
7. Keguguran: Walaupun keguguran lebih banyak terjadi pada trimester pertama, masih terdapat risiko keguguran pada trimester berikutnya.
Apabila perdarahan terjadi setelah usia kehamilan 28 minggu, segera datang ke rumah sakit karena hal ini merupakan kedaruratan. Perdarahan yang terjadi jumlahnya bisa banyak atau sedikit, dan disertai atau tanpa nyeri perut. Jangan anggap remeh perdarahan ini karena perdarahan adalah salah satu penyebab terbesar kematian ibu di Indonesia.
Bagaimana mencegahnya?
Bisa tidak ya kita mencegah supaya tidak keluar flek? Tentunya dengan rajin kontrol ke dokter/bidan sejak awal kehamilan sehingga bisa mendeteksi dini adanya kelainan. Hindari rokok dan narkoba karena merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan saat hamil, sekaligus juga tidak baik bagi kesehatan Anda secara umum. Nah, apabila Anda mengalami keluar flek saat hamil, tenangkan diri Anda, sekaligus tetap waspada terhadap adanya tanda-tanda bahaya di atas.
Saatnya pergi ke UGD
Anda perlu langsung pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) di rumah sakit jika mengalami tanda-tanda bahaya di bawah ini :
1. Perdarahan yang banyak, atau nyeri perut dan kontraksi yang hebat
2. Keluar flek atau perdarahan yang sudah berlangsung lebih dari 24 jam, dan Anda tidak dapat menghubungi dokter
3. Pingsan, atau merasa sangat pusing dan lemas
4. Perdarahan yang disertai demam di atas 38,5oC
Pada perdarahan trimester pertama, pertama kali dokter akan mencari apakah terjadi kehamilan ektopik, namun pada perdarah-an trimester berikutnya dokter akan terlebih dulu meyakinkan apa-kah keadaan Anda stabil atau tidak akibat kehilangan darah. Selain pemeriksaan fisik, dilakukan juga pemeriksaan laboratorium dan USG, tergantung dari kondisi Anda saat itu.
Referensi:
1. Leveno KJ, Cunningham FG, Gant NF, et al. Williams manual of obstetrics. 21th ed. Singapore: Mcgraw-Hill (Asia), 2003.
2. Mayo Clinic. Vaginal bleeding during pregnancy. www.mayoclinic.com
3. E-medicine. Bleeding during pregnancy. www.emedicinehealth.com
Labels:
Ibu dan Anak
Thursday, October 18, 2007
Lebaran #5 ; Menyisir Pantura dan Rest Area
Kami pulang ke Jakarta hari Senin Sore, ba'da Ashar. Aku, Faza, ayahnya plus Ate dan Om Ari. Nyaris bersamaan dengan Mas Bowo dan rombongan. Sementara Sitta dan suaminya, Kang Joy plus Sari udah duluan pulang karena katanya mau mampir Cirebon dulu. Makan ayam apa gituh disana. Hhhmm.. segitu bela-belainnya ya, hahaha.. Ya iyalah, mumpung ada di Indramayu to, jadi kesempatan besar lah menikmati klangenan.
Jalanan yang kami lewati termasuk lancar moncer. Ga ada kemacetan. Sesekali kami ketemu mtor-motor yang nampaknya sih udah ikut arus balik juga. Cuma ya belum banyak. Jadi kami bisa melaju rata-rata 80 km sampe 100 km per jam. Wuuuzzz....
Dari Indramayu sampe masuk tol Cikampek kami tempuh sekitar sejam seperempat. Engga brenti-brenti karena diniatin brenti pas di rest area tol Cikampek. Ada di km61, tapi rupanya pas rame banget. Bahkan ngeliat antrian yang cukup banyak nyaris di semua outlet makanan, kami pilih lanjut lagi aja, hihihihi.. Ga kebayang deh nanti antriannya. Akhirnya kami pilih rest area yang ada di km42. Ini juga ga kalah besar dengan sebelumnya. Kompleks jajanan dan toilet juga banyak. Toilet perempuannya berjajar berhadapan sekitar 20 biji. Dan termasuk bersih karena petugasnya rajin ngepelin mulu.
Sementara itu tempat makannya kami pilih yang ada di tengah. Lupa namanya euy. Sedia steak, ayam sampe seafood. Cuma yah, gitulah. Ga disangka, nyaris semua yang kami pingin udah habis. Idiihh.. baru juga jam tujuan gitu loh.. Tapi rasanya ya wajar aja. Lha gimana, itu orang banyak banget bow yang mampir. Ga cuma di resto itu, resto dan tempat nongkrong lain yang ada disitu juga full. Maklumlah, namanya juga lagi libur Lebaran. Jadi ya kami pesen yang ada aja. Faza sendiri menikmati beef burger. Es strawberry yang dipinginin udah ludes. Duh, padahal kalo di gambar mah menarik pisan itu gambar esnya. Yah, gapapa deh. Faza sudah cukup puas dengan orange juice sebagai gantinya.
Wah betulan deh, yang namanya tempat makan, selama musim mudik begini, pasti banyak peminat. Entah pinggir jalan atau yang model resto gitu, orang mah hayuuu aja masuk kesana. Mestinya sih mereka juga siap sedia dengan persediaan melimpah yah. Apalagi di lokasi macam rest area begitu. Peminat kan pasti banyak banget..
Mampir di rest area lumayan bikin segera lagi. Perjalanan menyusuri tol Cikampek yang rame jadi ga terlalu brasa jauh, hehehe.. Mulai brasa ngantuk pas masuk tol Cikunir karena kami nganter pulang Om Ari dan Ate. Soalnya Om Ari yang besoknya masuk kantor, engga sedia sepatu di rumah Uti. Wah itu tuh, beneran deh nguantuuukk banget di tol. Om Ari yang nyetir mah masih melek banget, malah becanda terus sama Faza. Kami ga sempet mampir lama-lama di rumah Ate karena udah malem. Belum lagi ayahnya Faza yang udah mulai diserang kantuk. Jadi dalam perjalanan ke rumah Uti di Cipinang, si ayah minta ijin untuk ngerokok, hehehe.. Soalnya selama ini kalo nyetir kan ndak pernah ngerokok. Cuma dalam kondisi darurat kaya ngantuk ini aja si ayah butuh doping. Faza sendiri udah mulai terlelap setelah beranjak dari rumah Ate.
Sampe rumah Uti udah hampir jam sepuluh. Fffuuiihh.. Alhamdulillah, perjalanan termasuk lancar. Kami tinggal menikmati kepenatan campur seneng setelah melewati hari-hari libur Lebaran. Buatku sih, meski ga lama, tapi lumayan lah untuk mengikis penat setelah rutinitas kerja. Eh tapi ya belum kikis banget lah, lha wong besoknya pas masuk kantor, ternyata masih mualeeesss bangeettt, hihihihihi.. Gawat gawats..
Jalanan yang kami lewati termasuk lancar moncer. Ga ada kemacetan. Sesekali kami ketemu mtor-motor yang nampaknya sih udah ikut arus balik juga. Cuma ya belum banyak. Jadi kami bisa melaju rata-rata 80 km sampe 100 km per jam. Wuuuzzz....
Dari Indramayu sampe masuk tol Cikampek kami tempuh sekitar sejam seperempat. Engga brenti-brenti karena diniatin brenti pas di rest area tol Cikampek. Ada di km61, tapi rupanya pas rame banget. Bahkan ngeliat antrian yang cukup banyak nyaris di semua outlet makanan, kami pilih lanjut lagi aja, hihihihi.. Ga kebayang deh nanti antriannya. Akhirnya kami pilih rest area yang ada di km42. Ini juga ga kalah besar dengan sebelumnya. Kompleks jajanan dan toilet juga banyak. Toilet perempuannya berjajar berhadapan sekitar 20 biji. Dan termasuk bersih karena petugasnya rajin ngepelin mulu.
Sementara itu tempat makannya kami pilih yang ada di tengah. Lupa namanya euy. Sedia steak, ayam sampe seafood. Cuma yah, gitulah. Ga disangka, nyaris semua yang kami pingin udah habis. Idiihh.. baru juga jam tujuan gitu loh.. Tapi rasanya ya wajar aja. Lha gimana, itu orang banyak banget bow yang mampir. Ga cuma di resto itu, resto dan tempat nongkrong lain yang ada disitu juga full. Maklumlah, namanya juga lagi libur Lebaran. Jadi ya kami pesen yang ada aja. Faza sendiri menikmati beef burger. Es strawberry yang dipinginin udah ludes. Duh, padahal kalo di gambar mah menarik pisan itu gambar esnya. Yah, gapapa deh. Faza sudah cukup puas dengan orange juice sebagai gantinya.
Wah betulan deh, yang namanya tempat makan, selama musim mudik begini, pasti banyak peminat. Entah pinggir jalan atau yang model resto gitu, orang mah hayuuu aja masuk kesana. Mestinya sih mereka juga siap sedia dengan persediaan melimpah yah. Apalagi di lokasi macam rest area begitu. Peminat kan pasti banyak banget..
Mampir di rest area lumayan bikin segera lagi. Perjalanan menyusuri tol Cikampek yang rame jadi ga terlalu brasa jauh, hehehe.. Mulai brasa ngantuk pas masuk tol Cikunir karena kami nganter pulang Om Ari dan Ate. Soalnya Om Ari yang besoknya masuk kantor, engga sedia sepatu di rumah Uti. Wah itu tuh, beneran deh nguantuuukk banget di tol. Om Ari yang nyetir mah masih melek banget, malah becanda terus sama Faza. Kami ga sempet mampir lama-lama di rumah Ate karena udah malem. Belum lagi ayahnya Faza yang udah mulai diserang kantuk. Jadi dalam perjalanan ke rumah Uti di Cipinang, si ayah minta ijin untuk ngerokok, hehehe.. Soalnya selama ini kalo nyetir kan ndak pernah ngerokok. Cuma dalam kondisi darurat kaya ngantuk ini aja si ayah butuh doping. Faza sendiri udah mulai terlelap setelah beranjak dari rumah Ate.
Sampe rumah Uti udah hampir jam sepuluh. Fffuuiihh.. Alhamdulillah, perjalanan termasuk lancar. Kami tinggal menikmati kepenatan campur seneng setelah melewati hari-hari libur Lebaran. Buatku sih, meski ga lama, tapi lumayan lah untuk mengikis penat setelah rutinitas kerja. Eh tapi ya belum kikis banget lah, lha wong besoknya pas masuk kantor, ternyata masih mualeeesss bangeettt, hihihihihi.. Gawat gawats..
Labels:
Cerita
Wednesday, October 17, 2007
Lebaran #4 ; Obat Kangen
Kalo ke Indramayu tuh rasanya kurang pas kalo engga mampir ke bubur ayam Mang Udin. Lokasinya di depan kantor Pegadaian. Tenda-tenda gitu. Wah kepinginnya udah lama banget nih, sejak awal hamil kedua ini, hihihihi.. Bubur ayam khas Indramayu yang kayanya biasa aja, tapi sensasinya itu lo, bikin kepingin mulu kalo berjauhan, ciaaahhh..
Jadilah Minggu malam, kami jalan ke Mang Udin. Kata Mang Ade, adenya Uti paling kecil, ada lagi saingan Mang Udin. Tapi daripada gimana-gimana, ya tujuan tetep diarahkan ke Mang Udin. Rombongan kami kesana setelah sebelumnya mampir dulu ke rumah Budhe Ijah, kakaknya Uti. Rumahnya sih ga terlalu jauh dari rumah Embah. Sekalian jemput Sari, sepupuku dan Laras. Sampe di Mang Udin, ga brapa lama, eh ada rombongan Mas Bowo. Ini juga sepupuku yang tinggal di Cinere. Sampe Indramayu setelah rombongan kami tiba duluan. Mas Bowo membawa serta pasukan keluarganya. Istrinya, Mba Tita, dua juniornya, Dimas dan Nadya. Plus dua lagi keponakan Mas Bowo. Jadilah malem itu warung Mang Udin tame. Eh ga brapa lama lagi, Sitta, kakaknya Sari, menelponku dan siap bergabung. Sitta dateng sama suaminya, Kang Joy dari Bandung. Tinggalnya sih di Pondok Bambu Jakarta. Jadi lengkaplah, klan Embah ada di tenda Mang Udin malam itu, hehehe..
Bubur ayam khas Indramayu itu engga halus-halus amat masaknya. Trus diguyur kuah semacam gulai, dikasi kecap asin dikit, dikepyurin irisan ayam, plus kacang kedelai dan bawang goreng. Terakhir dikasi krupuk udang yang diremes-remes. Bisa tambah kecap manis atau sambel jika suka. Gitu aja rasanya. Cuma yang membedakan mungkin rasa kuahnya ya. Jadi malem itu, aku memberanikan diri mesen setengah mangkuk untukku dan semangkuk penuh untuk Faza. Harapannya sih ya kalo Faza engga abis, maka dakulah yang akah ngabisin, hihihihi.. Tapi Faza lahap juga loh makan bubur ayam ini. Meski engga abis, tapi lumayanlah untuk ngisi perut malem itu.
Malem itu, Faza tidur nyenyak di hotel. Meski ada ngelindurnya, nangis-nangis minta pulang ke Bojongkulur, tapi tidurnya baguslah. Pasti udah kecapekan setelah perjalanan dari Jakarta pagi harinya. Nah, cerita soal hotel ini juga itung-itung obat kangen. Soalnya sudah tiga kali Lebaran ini, tiap ke Indramayu kami nginep di hotel yang sama. Namanya Wiwi Perkasa. Entahlah nama itu diambil darimana.
Pertama kali nginep di hotel ini, masih bangunan lama. Ada tiga lantai. Kamar VIP di lantai atas. VIP sih ya lumayan lah. Tempat tidurnya model family, trus ada tipi, kursid an meja trus ada kulkas mini kalo ga salah, plus kamar mandi. Standar gitu dei. Cuma ya namanya bangunan lama, jadi jangan membayangkan yang berlebihan. Rada kurang bersih lah. Jadi kaya kurang dapet sentuhan kemoceng, sapu dan lap pel gituh, hihihihi.. Tapi itupun sudah lumayan lah. Apalagi musim mudik gini kan banyak banget tuh yang memanfaatkan hotel ini untuk nginep. Secara banyak kaum mudikers gitu loh..
Nah sejak tahun kemaren, pengelola bikin investasi berupa gedung baru di sebelah bangunan lama. Wah ini mah udah keliatan banget 'hotelnya'. Bangunan baru, masih kinclong, bersih, perlengkapan juga masih bagus, lebih nyaman lah. Tahun inipun gedung yang baru masih bertahan. Mungkin udah lebih lengkap lagi ruangan yang siap pakai. Ada gedung pertemuannya juga malahan. Hotel ini juga dalam proses pengembangan gedung tambahan lagi. Wah, manteb juga tuh nampaknya bikin investasi hotel di Indramayu. Meski mungkin laris manisnya musim mudik begini. Kemaren aja pas kesana hotel ini full booked. Untung udah dipesenin sebelumnya.
Jadilah Minggu malam, kami jalan ke Mang Udin. Kata Mang Ade, adenya Uti paling kecil, ada lagi saingan Mang Udin. Tapi daripada gimana-gimana, ya tujuan tetep diarahkan ke Mang Udin. Rombongan kami kesana setelah sebelumnya mampir dulu ke rumah Budhe Ijah, kakaknya Uti. Rumahnya sih ga terlalu jauh dari rumah Embah. Sekalian jemput Sari, sepupuku dan Laras. Sampe di Mang Udin, ga brapa lama, eh ada rombongan Mas Bowo. Ini juga sepupuku yang tinggal di Cinere. Sampe Indramayu setelah rombongan kami tiba duluan. Mas Bowo membawa serta pasukan keluarganya. Istrinya, Mba Tita, dua juniornya, Dimas dan Nadya. Plus dua lagi keponakan Mas Bowo. Jadilah malem itu warung Mang Udin tame. Eh ga brapa lama lagi, Sitta, kakaknya Sari, menelponku dan siap bergabung. Sitta dateng sama suaminya, Kang Joy dari Bandung. Tinggalnya sih di Pondok Bambu Jakarta. Jadi lengkaplah, klan Embah ada di tenda Mang Udin malam itu, hehehe..
Bubur ayam khas Indramayu itu engga halus-halus amat masaknya. Trus diguyur kuah semacam gulai, dikasi kecap asin dikit, dikepyurin irisan ayam, plus kacang kedelai dan bawang goreng. Terakhir dikasi krupuk udang yang diremes-remes. Bisa tambah kecap manis atau sambel jika suka. Gitu aja rasanya. Cuma yang membedakan mungkin rasa kuahnya ya. Jadi malem itu, aku memberanikan diri mesen setengah mangkuk untukku dan semangkuk penuh untuk Faza. Harapannya sih ya kalo Faza engga abis, maka dakulah yang akah ngabisin, hihihihi.. Tapi Faza lahap juga loh makan bubur ayam ini. Meski engga abis, tapi lumayanlah untuk ngisi perut malem itu.
Malem itu, Faza tidur nyenyak di hotel. Meski ada ngelindurnya, nangis-nangis minta pulang ke Bojongkulur, tapi tidurnya baguslah. Pasti udah kecapekan setelah perjalanan dari Jakarta pagi harinya. Nah, cerita soal hotel ini juga itung-itung obat kangen. Soalnya sudah tiga kali Lebaran ini, tiap ke Indramayu kami nginep di hotel yang sama. Namanya Wiwi Perkasa. Entahlah nama itu diambil darimana.
Pertama kali nginep di hotel ini, masih bangunan lama. Ada tiga lantai. Kamar VIP di lantai atas. VIP sih ya lumayan lah. Tempat tidurnya model family, trus ada tipi, kursid an meja trus ada kulkas mini kalo ga salah, plus kamar mandi. Standar gitu dei. Cuma ya namanya bangunan lama, jadi jangan membayangkan yang berlebihan. Rada kurang bersih lah. Jadi kaya kurang dapet sentuhan kemoceng, sapu dan lap pel gituh, hihihihi.. Tapi itupun sudah lumayan lah. Apalagi musim mudik gini kan banyak banget tuh yang memanfaatkan hotel ini untuk nginep. Secara banyak kaum mudikers gitu loh..
Nah sejak tahun kemaren, pengelola bikin investasi berupa gedung baru di sebelah bangunan lama. Wah ini mah udah keliatan banget 'hotelnya'. Bangunan baru, masih kinclong, bersih, perlengkapan juga masih bagus, lebih nyaman lah. Tahun inipun gedung yang baru masih bertahan. Mungkin udah lebih lengkap lagi ruangan yang siap pakai. Ada gedung pertemuannya juga malahan. Hotel ini juga dalam proses pengembangan gedung tambahan lagi. Wah, manteb juga tuh nampaknya bikin investasi hotel di Indramayu. Meski mungkin laris manisnya musim mudik begini. Kemaren aja pas kesana hotel ini full booked. Untung udah dipesenin sebelumnya.
Labels:
Cerita
Tuesday, October 16, 2007
Lebaran #3 ; Ke Indramayu
Hari kedua Lebaran, hari Minggu, kami berencana ke Indramayu. Jadi dari rumah Nenek di Pasar Minggu, Sabtu ba'da Maghrib kami ke rumah Uti di Cipinang. Kami nyamperin Ate dan Om Ari dulu di Cipedak. Beberapa ruas jalan tergolong padet. Mungkin karena banyak yang brangkat atau pulang dari silaturahmi. Ayahnya Faza sempet salah jalan juga tuh. Sampe rumah Ate udah sekitar jam delapan malem. Ate dan Om Ari sih udah siap karena udah kutelpon duluan. Jadi sampe sana, kami engga terlalu lama. Maunya sih sekalian berlebaran juga di rumah ortunya Om Ari yang kebetulan sebelahan rumah. Tapi katanya ayahnya udah masuk kamar, jadi kami pun menunda rencana ke rumah sebelah.
Kami sampe Cipinang sekitar setengah sepuluh. Faza udah lelap sejak di mobil. Malem itu aku juga mesti beberes lagi untuk nyiapin perlengkapan yang mau dibawa ke Indramayu keesokan harinya. Rencananya sih cuma nginep semalem karena aku dan Om Ari sama-sama masuk hari Selasa. Sementara yang lain mah santei banget boww, lha wong masih masuk hari Senin depan. Huhuhuhuhuuuu.. Mau dooonnnggg....
Jadwal berangkat ke Indramayu dipatok jam 8 pagi sama Akung. Ada Pakdhe Mul juga yang nginep di Cipinang. Yah ga meleset-meleset amat sih waktu brangkatnya. Meski Faza sempet susah diajak mandi, sekitar setengah sembilan kami mulai brangkat. Kami berangkat dengan dua mobil, mobil kami dan mobil Akung. Rombongan mobil kami bertambah Ate dan Om Ari. Sementara mobil Akung isinya Akung, Uti, Pakdhe Mul, Om Ari dan Laras. Mala sendiri engga ikutan karena adiknya yang dari Padang mau dateng.
Mulai masuk tol Cikampek sekitar jam sembilan. Jalan tol yang awalnya lengang, mulai brasa padat di sekitar Bekasi Barat. Bahkan sempet nyaris brenti beberapa kali. Kadang mobil bisa juga dipacu rada kenceng. Tapi banyakan mah engga ding. Bahkan di pintu keluar Cikampek, termasuk padat banget. Kami harus sabar ngantri sebelum dapet kesempatan mbayar tol. Mobil Akung sendiri memilih keluar pintu tol Dawuan. Jadi itungannya malah leboh cepet Akung deh. Padahal sih sebelum itu, kami melaju sekitar 10 kilo di depan mobil Akung, huehehehe..
Kami mampir makan siang di Ma' Pinah, tempat makan selepas Pamanukan. Ada yang pernah? Gaya Sunda, dibuat saung-saung diatas kolam. Ada ikan bakar, cumi bakar, ayam goreng, sampe sop iga dan sayur asem plus tumis-tumisan. Sayangnya sih, kurang kipas angin atap gituh. Soalnya mengandalkan kipas angin standing sih kurang cukup karena asap bakaran suka menuju ke meja-meja makan, meski settingan lokasi sudah dibuat blong. Kami juga mampir di masjid di kawasan Sukra Indramayu. esjidnya gampang dikenal karena warnanya ijo tua mencorong. Banyak banget yang siang itu mampir ke mesjid. Sholat sekalian istirahat dan makan siang. Ga cuma mesjid ini aja yang penuh. Nyaris semua mesjid yang kami lewati di sepanjang pantura penuh dengan rombongan yang tengah istirahat.
Dari Sukra, udah ga terlalu jauh lagi ke rumah Uyut Faza. Sekitar 45 menit kemudian kami sudah masuk kota Indramayu dan tiba di rumah Embah. Cuma kami memang engga nginep di rumah Embah. Bukan apa-apa dan bukan juga mau sok-sokan dongs. Cuma Indramayu ini kan panas dan banyak nyamuk. Kasian Faza kalo mau istirahat. Jadi kami nginep di hotel deket rumah Embah. Udah tiga Lebaran ini setiap ke Indramayu, aku, Faza dan ayahnya nginep di hotel yang sama. Paling juga cuma lima menit dari rumah Embah. Huehehe.. Kalo lagi pingin mah tinggal naik becak aja dari rumah ke hotel.
Hhhhmmm.. Indramayu, here we come..
Kami sampe Cipinang sekitar setengah sepuluh. Faza udah lelap sejak di mobil. Malem itu aku juga mesti beberes lagi untuk nyiapin perlengkapan yang mau dibawa ke Indramayu keesokan harinya. Rencananya sih cuma nginep semalem karena aku dan Om Ari sama-sama masuk hari Selasa. Sementara yang lain mah santei banget boww, lha wong masih masuk hari Senin depan. Huhuhuhuhuuuu.. Mau dooonnnggg....
Jadwal berangkat ke Indramayu dipatok jam 8 pagi sama Akung. Ada Pakdhe Mul juga yang nginep di Cipinang. Yah ga meleset-meleset amat sih waktu brangkatnya. Meski Faza sempet susah diajak mandi, sekitar setengah sembilan kami mulai brangkat. Kami berangkat dengan dua mobil, mobil kami dan mobil Akung. Rombongan mobil kami bertambah Ate dan Om Ari. Sementara mobil Akung isinya Akung, Uti, Pakdhe Mul, Om Ari dan Laras. Mala sendiri engga ikutan karena adiknya yang dari Padang mau dateng.
Mulai masuk tol Cikampek sekitar jam sembilan. Jalan tol yang awalnya lengang, mulai brasa padat di sekitar Bekasi Barat. Bahkan sempet nyaris brenti beberapa kali. Kadang mobil bisa juga dipacu rada kenceng. Tapi banyakan mah engga ding. Bahkan di pintu keluar Cikampek, termasuk padat banget. Kami harus sabar ngantri sebelum dapet kesempatan mbayar tol. Mobil Akung sendiri memilih keluar pintu tol Dawuan. Jadi itungannya malah leboh cepet Akung deh. Padahal sih sebelum itu, kami melaju sekitar 10 kilo di depan mobil Akung, huehehehe..
Kami mampir makan siang di Ma' Pinah, tempat makan selepas Pamanukan. Ada yang pernah? Gaya Sunda, dibuat saung-saung diatas kolam. Ada ikan bakar, cumi bakar, ayam goreng, sampe sop iga dan sayur asem plus tumis-tumisan. Sayangnya sih, kurang kipas angin atap gituh. Soalnya mengandalkan kipas angin standing sih kurang cukup karena asap bakaran suka menuju ke meja-meja makan, meski settingan lokasi sudah dibuat blong. Kami juga mampir di masjid di kawasan Sukra Indramayu. esjidnya gampang dikenal karena warnanya ijo tua mencorong. Banyak banget yang siang itu mampir ke mesjid. Sholat sekalian istirahat dan makan siang. Ga cuma mesjid ini aja yang penuh. Nyaris semua mesjid yang kami lewati di sepanjang pantura penuh dengan rombongan yang tengah istirahat.
Dari Sukra, udah ga terlalu jauh lagi ke rumah Uyut Faza. Sekitar 45 menit kemudian kami sudah masuk kota Indramayu dan tiba di rumah Embah. Cuma kami memang engga nginep di rumah Embah. Bukan apa-apa dan bukan juga mau sok-sokan dongs. Cuma Indramayu ini kan panas dan banyak nyamuk. Kasian Faza kalo mau istirahat. Jadi kami nginep di hotel deket rumah Embah. Udah tiga Lebaran ini setiap ke Indramayu, aku, Faza dan ayahnya nginep di hotel yang sama. Paling juga cuma lima menit dari rumah Embah. Huehehe.. Kalo lagi pingin mah tinggal naik becak aja dari rumah ke hotel.
Hhhhmmm.. Indramayu, here we come..
Labels:
Cerita
Lebaran #2 ; Malem Takbiran
Hari H Lebaran kami lewati di rumah Nenek. Kami berangkat Jumat pagi, berbarengan dengan ultah Om Ardi. Hari itu aku mulai cuti. Kami mampir dulu ke dokter THT untuk meriksain telingaku. Entah kenapa, dinihari pas bangun sahur, kok nun jauh di dalem telinga brasa ada rasa sakit yang menyengat. Engga teraba dari luar. Jadi bikin pusing..
Alhasil, ba'da Subuh, setelah yang lain tidur, aku malah engga bisa tidur sama sekali. Abis, nengok kiri salah, nengok kanan salah. Pusingnya itu yang menyumbang porsi terbesar bikin ga bisa tidur. Baru bisa tidur sekitar jam setengah delapan, itupun juga ga lama. Tapi syukurlah, sumber sakit yang tadinya ada jauh di dalem telinga, sekarang udah deket dengan telinga. Tapi tetep aja engga keraba. Jadi daripada gimana-gimana, diputuskanlah untuk ke dokter dulu sambil jalan ke rumah Nenek. Di RS THT Proklamasi itu, ketemu dokter yang udah sepuh banget. Pasien sebelum aku adalah bayi. Kata kakek dokter, ada infeksi di dalem telinga. Jadi aku dikasi obat tetes telinga dan antibiotik. Antibiotiknya ini dipilih yang bisa dikonsumsi sama ibu hamil usia enam bulan kaya aku. Tapi sampe rumah, cuma obat tetes yang kupake, sementara obat oral antibiotiknya engga kuminum. Alhamdulillah setelah dua kali dikasi obat tetesnya, sakitnya ilang.
Btw, waktu sampe di rumah Nenek, Nenek lagi masak dibantu Bunda Geni yang udah datang sehari sebelumnya sama Bang Herman dari Surabaya, sama tentu saja Bunda Ayu. Si Mba udah pulang sejak awal pekan. Jadi akupun ga brapa lama ikut bergabung untuk urusan dapur ini. Njagain Fazanya barengan antara aku, ayahnya dan para Bunda. Malemnya, aku sam aayahnya Faza ngambil lontong ke Cipinang. Waduh, engga dinyana sama sekali, jalanan yang kami lewati penuh banget. Kami pilih lewat tol menuju Cipinang trus turun di Jatinegara. Weh weehhh.. nyatanya di bawah, jalurnya juga lumayan padat karena banyak sekali rombongan takbir keliling yang make truk. Padet banget. Jalur yang ke Kampung Melayu dari arah pertigaan depan stasiun Jatinegara juga sudah ditutup. Kami mesti bersabar untuk dapet ruang melenggang.
Di rumah Uti, pesenan lontong baru diambil. Pesennya di Bambu Apus, tempat kami biasa mesen lontong kalo Lebaran. Lumayan jauh memang tapi ya berhubung udah terlanjur suka, jadi Uti mbela-mbelain pesen kesana. Yang ngambil Om Ardi, Mala sama Laras. Yang terakhir ini ponakanku dari Djogdja, datang bareng Om Ardi. Ngeliat situasi yang macet luar biasa, kami nelpon Om Ardi untuk pilih jalan tol aja daripada lewat bypass. Trus kuminta turun di Rawamangun aja daripada ketemu macet di pertigaan stasiun itu. Eh tapi ga taunya, kata Om Ardi, turun di Rawamangun juga ga kalah 'mengerikan'. Soalnya truk-truk pembawa rombongan takbir keliling itu juga melewati area yang sama. Waktu pulang, kami ngeliat memang situasi jalanan tambah macet. Betul, turun tol Rawamangun nyaris engga jalan karena di bypass, truk-truk itu pada brenti. Mending brentinya di tepi jalan, ini mah di lajur kanan sebelah separator busway itu. Duh, kebayang dong macetnya kaya apa. Di jalur satunya, truk-truk pembawa rombongan juga banyak banget. Mereka banyak yang brenti untuk ngasi kesempatan para penggembira yang mau ikutan naik keatas truk. Ada yang bawa bendera, ada yang sambil bawa alat musik, macem-macem deh. Belum lagi jalanan juga padet karena banyak mobil dan motor. Mungkin mereka mau silaturahmi atau sekedar menghabiskan malam takbiran di jalan.
Sampe rumah Nenek, sudah ada Bunda Ade. Faza belum juga tidur boww.. Padahal mah udah jam sepuluh lewat. Mesti dirayu-rayu dulu sebelum akhirnya Faza terlelap dan bersiap sholat Ied di mesjid deket rumah keesokan paginya.
Alhasil, ba'da Subuh, setelah yang lain tidur, aku malah engga bisa tidur sama sekali. Abis, nengok kiri salah, nengok kanan salah. Pusingnya itu yang menyumbang porsi terbesar bikin ga bisa tidur. Baru bisa tidur sekitar jam setengah delapan, itupun juga ga lama. Tapi syukurlah, sumber sakit yang tadinya ada jauh di dalem telinga, sekarang udah deket dengan telinga. Tapi tetep aja engga keraba. Jadi daripada gimana-gimana, diputuskanlah untuk ke dokter dulu sambil jalan ke rumah Nenek. Di RS THT Proklamasi itu, ketemu dokter yang udah sepuh banget. Pasien sebelum aku adalah bayi. Kata kakek dokter, ada infeksi di dalem telinga. Jadi aku dikasi obat tetes telinga dan antibiotik. Antibiotiknya ini dipilih yang bisa dikonsumsi sama ibu hamil usia enam bulan kaya aku. Tapi sampe rumah, cuma obat tetes yang kupake, sementara obat oral antibiotiknya engga kuminum. Alhamdulillah setelah dua kali dikasi obat tetesnya, sakitnya ilang.
Btw, waktu sampe di rumah Nenek, Nenek lagi masak dibantu Bunda Geni yang udah datang sehari sebelumnya sama Bang Herman dari Surabaya, sama tentu saja Bunda Ayu. Si Mba udah pulang sejak awal pekan. Jadi akupun ga brapa lama ikut bergabung untuk urusan dapur ini. Njagain Fazanya barengan antara aku, ayahnya dan para Bunda. Malemnya, aku sam aayahnya Faza ngambil lontong ke Cipinang. Waduh, engga dinyana sama sekali, jalanan yang kami lewati penuh banget. Kami pilih lewat tol menuju Cipinang trus turun di Jatinegara. Weh weehhh.. nyatanya di bawah, jalurnya juga lumayan padat karena banyak sekali rombongan takbir keliling yang make truk. Padet banget. Jalur yang ke Kampung Melayu dari arah pertigaan depan stasiun Jatinegara juga sudah ditutup. Kami mesti bersabar untuk dapet ruang melenggang.
Di rumah Uti, pesenan lontong baru diambil. Pesennya di Bambu Apus, tempat kami biasa mesen lontong kalo Lebaran. Lumayan jauh memang tapi ya berhubung udah terlanjur suka, jadi Uti mbela-mbelain pesen kesana. Yang ngambil Om Ardi, Mala sama Laras. Yang terakhir ini ponakanku dari Djogdja, datang bareng Om Ardi. Ngeliat situasi yang macet luar biasa, kami nelpon Om Ardi untuk pilih jalan tol aja daripada lewat bypass. Trus kuminta turun di Rawamangun aja daripada ketemu macet di pertigaan stasiun itu. Eh tapi ga taunya, kata Om Ardi, turun di Rawamangun juga ga kalah 'mengerikan'. Soalnya truk-truk pembawa rombongan takbir keliling itu juga melewati area yang sama. Waktu pulang, kami ngeliat memang situasi jalanan tambah macet. Betul, turun tol Rawamangun nyaris engga jalan karena di bypass, truk-truk itu pada brenti. Mending brentinya di tepi jalan, ini mah di lajur kanan sebelah separator busway itu. Duh, kebayang dong macetnya kaya apa. Di jalur satunya, truk-truk pembawa rombongan juga banyak banget. Mereka banyak yang brenti untuk ngasi kesempatan para penggembira yang mau ikutan naik keatas truk. Ada yang bawa bendera, ada yang sambil bawa alat musik, macem-macem deh. Belum lagi jalanan juga padet karena banyak mobil dan motor. Mungkin mereka mau silaturahmi atau sekedar menghabiskan malam takbiran di jalan.
Sampe rumah Nenek, sudah ada Bunda Ade. Faza belum juga tidur boww.. Padahal mah udah jam sepuluh lewat. Mesti dirayu-rayu dulu sebelum akhirnya Faza terlelap dan bersiap sholat Ied di mesjid deket rumah keesokan paginya.
Labels:
Cerita
Lebaran #1 ; Masuk Kerja
Hari ini masuk kerja lagi setelah Jumat dan Senin pamit dalam rangka Lebaran. Kok pamit? Ya iya lah.. Kantorku, tepatnya departemenku mah ga mengenal kata libur sebetulnya. Namanya juga radio toh. jadi liburnya memang diatur sevara gantian. Kebetulan pas Sabtu dan Minggu, pas Lebaran kemaren itu bersamaan dengan jadwalku libur. Jadi aku ambil cuti sehari sebelum dan sesudah Lebaran.
Pagi tadi sebelum berangkat kantor, duh berasa butuh tenaga dan suplemen ekstra demi menepuk badan supaya mau bangun dan mulai kerja. Hehehe.. dahsyat juga ya. Cuma libur empat hari tapi efeknya udah lumayan berasa. Jadi males bow untuk memulai aktifitas lagi, hihihihi.. Tapi yang namanya masuk ya tetep mesti masuk. Ngga mungkin kalo tanpa alasan jelas trus ngga masuk lagi kan..
Ayahnya Faza masih masuk Senin depan. Jadi sekarang ya masih leha-leha aja. Kami masih ngekos di rumah Uti di Cipinang karena mbak-mbak masih belum pada balik. Tadi pagi, Faza berdua Mala di rumah. Abis nganter aku, si ayah mau nengokin rumah. Kutelpon ke rumah tadi, Faza baru aja tidur.
Di kantor juga masih belum banyak yang masuk. Banyak yang ambil cuti setelah masa Lebaran. Ada yang baru mudik sekarang secara cuti bersama kan masih sampe Jumat nanti dan baru masuk lagi hari Senin. Hhhmmm.. gimana kira-kira ya situasi ibukota awal pekan nanti? Bayangan kemacetan yang biasa kutemui langsung deh di depan mata, hikhikhik.. Ah ya sudahlah, macet kan memang makanan sehari-hari Jakarta. Dinikmati aja. Yang lebih penting juga, nikmati saja hari-hari sekarang yang penuh dengan suasana lengang, huehehehe..
Pagi tadi sebelum berangkat kantor, duh berasa butuh tenaga dan suplemen ekstra demi menepuk badan supaya mau bangun dan mulai kerja. Hehehe.. dahsyat juga ya. Cuma libur empat hari tapi efeknya udah lumayan berasa. Jadi males bow untuk memulai aktifitas lagi, hihihihi.. Tapi yang namanya masuk ya tetep mesti masuk. Ngga mungkin kalo tanpa alasan jelas trus ngga masuk lagi kan..
Ayahnya Faza masih masuk Senin depan. Jadi sekarang ya masih leha-leha aja. Kami masih ngekos di rumah Uti di Cipinang karena mbak-mbak masih belum pada balik. Tadi pagi, Faza berdua Mala di rumah. Abis nganter aku, si ayah mau nengokin rumah. Kutelpon ke rumah tadi, Faza baru aja tidur.
Di kantor juga masih belum banyak yang masuk. Banyak yang ambil cuti setelah masa Lebaran. Ada yang baru mudik sekarang secara cuti bersama kan masih sampe Jumat nanti dan baru masuk lagi hari Senin. Hhhmmm.. gimana kira-kira ya situasi ibukota awal pekan nanti? Bayangan kemacetan yang biasa kutemui langsung deh di depan mata, hikhikhik.. Ah ya sudahlah, macet kan memang makanan sehari-hari Jakarta. Dinikmati aja. Yang lebih penting juga, nikmati saja hari-hari sekarang yang penuh dengan suasana lengang, huehehehe..
Labels:
Cerita
Thursday, October 11, 2007
Rencana Lebaran
Sejak Selasa pagi, kami sudah ngungsi ke Cipinang, rumah Uti. Soalnya mbak-mbaknya Faza udah pada mudik. Yang satu Senin malem, satunya lagi Selasa pagi, barengan kita ngungsi dan brangkat kantor itu. Hhhmmm.. mudik juga namanya yah, hihihihi..
Selama di Cipinang, Faza sekolah terus. Hari ini hari terakhir sebelum cuti bersama. Suasana kantorku juga udah mulai berhawa libur, hhhmmmm.. Aku juga mulai besok udah ambil cuti. Jumat dan Senin. Mudik? Yaa.. iya juga. Rencananya sih Lebaran di rumah Nenek trus hari keduanya baru deh ke rumah Uyutnya Faza di Indramayu. Duh, udah ngidam ke Indramayu sejak awal hamil kedua ini, hihihihi.. Cuma, karena belum ada kesempatan kesana, jadi ya pas Uti dan Akung kesana beberapa waktu lalu, nitip aja klangenan yang biasa ditemui disana. Tapi ya ga bisa terpenuhi booww.. Soalnya yang dipesen mangga yang waktu itu belum musim. Duh, padahal mah kalo lagi musim, tinggal metik aja tuh di rumah embah atau rumah Budhe. Sementara klangenan lainnya adalah bubur Mang Udin yang ada di depan kantor Pegadaian. Duh, ini mah brasa di depan mata dan bikin nelen ludah deh hai, huehehehe..
Sementara tahun lalu kami juga ke Indramayu. Cuma waktu itu perjalanannya bukan dari Jakarta, tapi dari Kudus. Di Indramayu, beneran dipuasin deh makan mangga dan bubur ayam Mang Udin, hehehehe.. Mangganya itu bermacam jenis karena Indramayu juga terkenal sebagai penghasil buah ini. Mau yang arum manis, mau yang gedong, apa aja deh, tinggal pilih. Rumah Budhe itu juga kalo lagi berbuah pohon mangganya, biasanya dipesen untuk dibeli. Belinya ya per pohon trus langsung dihargai brapa gituh. Jadi bukan kiloan ngitungnya.
Sementara kalo bicara bubur Mang Udin, entah kenapa itu bubur selalu menawarkan sensasi yang berbeda, cieee.. Ada sesuatu di buburnya yang bikin nagih, hahaha.. Buburnya itu ya bubur putih dari beras gituh. Trus diguyur sama kuah santen semacam gulai. Trus uba rampe bubur ayam kaya kacang kedelai sama krupuk dan bawang goreng plus irisan ayam juga ikut serta. Nyaris selalu nambah lo barang setengah mangkok kalo ke Mang Udin, hihihi.. Krupuknya itu juga krupuk udang yang juga jadi salah satu trade mark Indramayu.
Hhhmm.. jadi tambah penasaran nih sama si bubur. Semoga perjalanan ke Indramayu nanti udah ngga kena macet deh secara udah hari kedua Lebaran. Semoga lancar dan aman semua rencana ini. Amiieenn..
Taqobalallahu minna wa minkum. Taqobal yaaa Kariimm.
Minal aidin wal faizin..
Maaf lahir batin..
Selama di Cipinang, Faza sekolah terus. Hari ini hari terakhir sebelum cuti bersama. Suasana kantorku juga udah mulai berhawa libur, hhhmmmm.. Aku juga mulai besok udah ambil cuti. Jumat dan Senin. Mudik? Yaa.. iya juga. Rencananya sih Lebaran di rumah Nenek trus hari keduanya baru deh ke rumah Uyutnya Faza di Indramayu. Duh, udah ngidam ke Indramayu sejak awal hamil kedua ini, hihihihi.. Cuma, karena belum ada kesempatan kesana, jadi ya pas Uti dan Akung kesana beberapa waktu lalu, nitip aja klangenan yang biasa ditemui disana. Tapi ya ga bisa terpenuhi booww.. Soalnya yang dipesen mangga yang waktu itu belum musim. Duh, padahal mah kalo lagi musim, tinggal metik aja tuh di rumah embah atau rumah Budhe. Sementara klangenan lainnya adalah bubur Mang Udin yang ada di depan kantor Pegadaian. Duh, ini mah brasa di depan mata dan bikin nelen ludah deh hai, huehehehe..
Sementara tahun lalu kami juga ke Indramayu. Cuma waktu itu perjalanannya bukan dari Jakarta, tapi dari Kudus. Di Indramayu, beneran dipuasin deh makan mangga dan bubur ayam Mang Udin, hehehehe.. Mangganya itu bermacam jenis karena Indramayu juga terkenal sebagai penghasil buah ini. Mau yang arum manis, mau yang gedong, apa aja deh, tinggal pilih. Rumah Budhe itu juga kalo lagi berbuah pohon mangganya, biasanya dipesen untuk dibeli. Belinya ya per pohon trus langsung dihargai brapa gituh. Jadi bukan kiloan ngitungnya.
Sementara kalo bicara bubur Mang Udin, entah kenapa itu bubur selalu menawarkan sensasi yang berbeda, cieee.. Ada sesuatu di buburnya yang bikin nagih, hahaha.. Buburnya itu ya bubur putih dari beras gituh. Trus diguyur sama kuah santen semacam gulai. Trus uba rampe bubur ayam kaya kacang kedelai sama krupuk dan bawang goreng plus irisan ayam juga ikut serta. Nyaris selalu nambah lo barang setengah mangkok kalo ke Mang Udin, hihihi.. Krupuknya itu juga krupuk udang yang juga jadi salah satu trade mark Indramayu.
Hhhmm.. jadi tambah penasaran nih sama si bubur. Semoga perjalanan ke Indramayu nanti udah ngga kena macet deh secara udah hari kedua Lebaran. Semoga lancar dan aman semua rencana ini. Amiieenn..
Taqobalallahu minna wa minkum. Taqobal yaaa Kariimm.
Minal aidin wal faizin..
Maaf lahir batin..
Labels:
Cerita
Monday, October 01, 2007
Penyesalan..
Semalem Faza tiba-tiba merajuk pingin dibeliin makanan kecil yang rasanya manis plus berMSG banyak. Saking mautnya itu rajukan, Faza membongkar dompetku, mengeluarkan semua isinya. Semua dilakukan dibarengi dengan jeritan kenceng menuntut supaya kemauannya dipenuhi. Hhhhmmm.. belakangan ini Faza kalo protes suka mengejutkan. Pake teriak, trus kadang disertai mukul atau nendang. Wah waahh waaahh..
Semalem, Faza pun kurayu dan kuberitau soal duit yang kotor, soal tindakannya yang menumpahkan seluruh isi dompetku. Tapi entah, Faza lagi pingin banget keinginannya dikabulkan. Jadilah perintahku ke Faza untuk ikut mberesi yang berceceran pun ga mempan. Teriakannya makin menjadi dihiasi rengekan tangisnya.
Aaahh.. akupun pasang strategi. Aku memilih memalingkan perhatian dari Faza. Strategi yang kupetik dari sebuah bacaan. Kalo pas anak ngambek, coba palingkan perhatian dari si anak. Biasanya si anak akan merasa kehilangan begitu kita ga memperhatikan dia barang sesaat. Jadi kutinggalin Faza di kamar. Hhhmm.. betul juga, Faza langsung ngikutin aku meski masih sambil teriak. Aku pura-pura tidur di sofa. Sampe ayahnya keluar dari kamar mandi, Faza masih malu-malu kucing mendekatiku. Setelah dikasi tau ayahnya kalo mamanya nangis, baru deh Faza beringsut mendekatiku. Faza terus 'dikomporin' ayahnya untuk meminta maaf ke aku dan nunjukkin rasa sayangnya ke aku. Hhhhmmm.. setelah nunggu-nunggu, akhirnya mulai deh kurasakan belaian mungilnya di wajahku trus sebuah kecupan didaratkan di jidatku. Sambil ga lupa Faza ngucapin minta maaf ke aku. Huhuhuhuhuu.. terharunyaaaaa..
Eh tiba-tiba kok pagi tadi aku jadi brasa menyesal yah. Menyesal, kuatir, sapa tau yang kulakukan semalem itu terlalu berlebihan. Ah, iya engga ya.. Mudah-mudahan sih engga deh.. Soalnya ngeliat tampang Faza kalo abis kupasang strategi begitu, mesti jadi engga tegaaaa deh.. Maafin ya 'yang..
Semalem, Faza pun kurayu dan kuberitau soal duit yang kotor, soal tindakannya yang menumpahkan seluruh isi dompetku. Tapi entah, Faza lagi pingin banget keinginannya dikabulkan. Jadilah perintahku ke Faza untuk ikut mberesi yang berceceran pun ga mempan. Teriakannya makin menjadi dihiasi rengekan tangisnya.
Aaahh.. akupun pasang strategi. Aku memilih memalingkan perhatian dari Faza. Strategi yang kupetik dari sebuah bacaan. Kalo pas anak ngambek, coba palingkan perhatian dari si anak. Biasanya si anak akan merasa kehilangan begitu kita ga memperhatikan dia barang sesaat. Jadi kutinggalin Faza di kamar. Hhhmm.. betul juga, Faza langsung ngikutin aku meski masih sambil teriak. Aku pura-pura tidur di sofa. Sampe ayahnya keluar dari kamar mandi, Faza masih malu-malu kucing mendekatiku. Setelah dikasi tau ayahnya kalo mamanya nangis, baru deh Faza beringsut mendekatiku. Faza terus 'dikomporin' ayahnya untuk meminta maaf ke aku dan nunjukkin rasa sayangnya ke aku. Hhhhmmm.. setelah nunggu-nunggu, akhirnya mulai deh kurasakan belaian mungilnya di wajahku trus sebuah kecupan didaratkan di jidatku. Sambil ga lupa Faza ngucapin minta maaf ke aku. Huhuhuhuhuu.. terharunyaaaaa..
Eh tiba-tiba kok pagi tadi aku jadi brasa menyesal yah. Menyesal, kuatir, sapa tau yang kulakukan semalem itu terlalu berlebihan. Ah, iya engga ya.. Mudah-mudahan sih engga deh.. Soalnya ngeliat tampang Faza kalo abis kupasang strategi begitu, mesti jadi engga tegaaaa deh.. Maafin ya 'yang..
Labels:
Cerita
Thursday, September 27, 2007
Burma ; Menerobos Masa Gelap
In support of our incredibly brave friend in Burma: May all people around the world wear a RED shirt on Friday, September 28. Please forward!
Hari ini banyak sekali pesan pendek yang masuk berisi ajakan diatas. Yah, kalo ngikutin perkembangan di Burma memang situasi dari hari ke hari kian mencekam. Setidaknya sejak sepekan terakhir, demonstrasi besar-besaran tumpah di Burma, tepatnya di kota terbesar Rangoon yang sekarang disebut Yangon oleh junta militer. Aksi ini merupakan yang terbesar sejak demo tahun 1988 lalu.
Junta militer Burma memerintah sejak 1991. Waktu itu usai pemilihan umum yang dimenangkan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi, militer menafikkan kemenangan itu. Malah pemimpin partainya Aung San Suu Kyi ditahan, sampe sekarang. Dan sejak junta militer mulai berkuasa, demokrasi di Burma disebut-sebut mati suri, kalo ngga boleh dibilang mati sama sekali. Mereka yang memprotes kebijakan pemerintahan junta dibabat habis. Demokrasi nyaris tak ada di bumi Burma. Banyak lembaga internasional yang melaporkan dugaan pelanggaran HAM berat di Burma. Tapi kayanya belum pernah ada sanksi khusus buat Burma.
Di forum ASEAN, sempat juga dalam pertemuan antara pemimpin negara, ada desakan kepada Burma untuk melepaskan Suu Kyi dan mengembalikan proses demokrasi. Pertemuan para pemimpin negara di New York hari-hari ini juga menyerukan seruan keprihatinan untuk Burma. Bahkan Dewan Keamanan PBB juga bersidang secara khusus untuk membahas Burma. Sayangnya, belum ada keputusan resmi untuk menjatuhkan sanksi bagi Burma. Ahhh..
Dan sekarang, hampir 20 tahun berlalu, aksi turun ke jalan memprotes pemerintah, terjadi lagi. Jumlahnya disebut terbesar sejak tahun 1988 itu. Pemicunya adalah melonjaknya harga BBM sampe di angka 500 persen. Protes ini dimotori para biksu. Mereka melakukan aksi damai. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan doa. Di Burma, biksu punya pengaruh besar karena disebut termasuk dalam 'tiga anak negara'. Dua lainnya adalah mahasiswa dan militer. Turunnya para biksu ini terus berlangsung, bahkan di tengah hujan dan banjir. Aksi mereka akhirnya diikuti warga sipil.
Hari keberapa gitu, sudah mulai timbul kekuatiran akan munculnya kekerasan dari junta. Soalnya mereka sudah kasi aba-aba agar demonstran kembali saja ke rumah. Tapi apa daya, keinginan kuat untuk berubah dan menurunkan pemerintahan junta, membuat mereka tetap bertahan di jalan. Ga peduli dihadang polisi dan tentara. Bahkan meski dua kuil yang jadi pusat berkumpulnya pada biksu ini dikepung, mereka tetap meniatkan diri untuk turun ke jalan.
Ah, dua hari terakhir ini, kabar buruk datang dari Burma. Tentara mulai ambil jalan kekerasan. Bahkan mulai mengambil korban. Setidaknya sudah delapan orang tewas, terdiri dari biksu, remaja demonstran dan seorang jurnalis asal Jepang terbunuh. Ada banyak kesaksian yang menyebut militer menembakkan senjata langsung ke arah demonstran, ada juga yang menyebut tembakan diarahkan ke udara. Bahkan ada yang melihat taktik curang junta militer. Mereka tidak menembak dengan senjata tapi melempari demonstran make peluru. Duh, kejam sekaliiii.. Apa engga malu ya junta itu sama teriakan dunia internasional yang minta mereka mengedepankan demonstrasi. Bahkan sejumlah negara sudah ancang-ancang menerapkan sanksi terhadap Burma. Mungkin rezim junta ini engga denger ya seruan dunia karena kabarnya disana, semua line telepon dan akses internet diblok dan engga bisa keluar.
Ah.. cukup sudah darah mengalir di Burma. Semoga Burma segera berubah menjadi lebih baik.. Apalagi aksi turun ke jalan sekarang engga hanya terjadi di Rangoon tapi juga sudah meluas ke daerah lain. Semoga para biksu yang jadi motor aksi, kian dikuatkan..
Hari ini banyak sekali pesan pendek yang masuk berisi ajakan diatas. Yah, kalo ngikutin perkembangan di Burma memang situasi dari hari ke hari kian mencekam. Setidaknya sejak sepekan terakhir, demonstrasi besar-besaran tumpah di Burma, tepatnya di kota terbesar Rangoon yang sekarang disebut Yangon oleh junta militer. Aksi ini merupakan yang terbesar sejak demo tahun 1988 lalu.
Junta militer Burma memerintah sejak 1991. Waktu itu usai pemilihan umum yang dimenangkan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi, militer menafikkan kemenangan itu. Malah pemimpin partainya Aung San Suu Kyi ditahan, sampe sekarang. Dan sejak junta militer mulai berkuasa, demokrasi di Burma disebut-sebut mati suri, kalo ngga boleh dibilang mati sama sekali. Mereka yang memprotes kebijakan pemerintahan junta dibabat habis. Demokrasi nyaris tak ada di bumi Burma. Banyak lembaga internasional yang melaporkan dugaan pelanggaran HAM berat di Burma. Tapi kayanya belum pernah ada sanksi khusus buat Burma.
Di forum ASEAN, sempat juga dalam pertemuan antara pemimpin negara, ada desakan kepada Burma untuk melepaskan Suu Kyi dan mengembalikan proses demokrasi. Pertemuan para pemimpin negara di New York hari-hari ini juga menyerukan seruan keprihatinan untuk Burma. Bahkan Dewan Keamanan PBB juga bersidang secara khusus untuk membahas Burma. Sayangnya, belum ada keputusan resmi untuk menjatuhkan sanksi bagi Burma. Ahhh..
Dan sekarang, hampir 20 tahun berlalu, aksi turun ke jalan memprotes pemerintah, terjadi lagi. Jumlahnya disebut terbesar sejak tahun 1988 itu. Pemicunya adalah melonjaknya harga BBM sampe di angka 500 persen. Protes ini dimotori para biksu. Mereka melakukan aksi damai. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan doa. Di Burma, biksu punya pengaruh besar karena disebut termasuk dalam 'tiga anak negara'. Dua lainnya adalah mahasiswa dan militer. Turunnya para biksu ini terus berlangsung, bahkan di tengah hujan dan banjir. Aksi mereka akhirnya diikuti warga sipil.
Hari keberapa gitu, sudah mulai timbul kekuatiran akan munculnya kekerasan dari junta. Soalnya mereka sudah kasi aba-aba agar demonstran kembali saja ke rumah. Tapi apa daya, keinginan kuat untuk berubah dan menurunkan pemerintahan junta, membuat mereka tetap bertahan di jalan. Ga peduli dihadang polisi dan tentara. Bahkan meski dua kuil yang jadi pusat berkumpulnya pada biksu ini dikepung, mereka tetap meniatkan diri untuk turun ke jalan.
Ah, dua hari terakhir ini, kabar buruk datang dari Burma. Tentara mulai ambil jalan kekerasan. Bahkan mulai mengambil korban. Setidaknya sudah delapan orang tewas, terdiri dari biksu, remaja demonstran dan seorang jurnalis asal Jepang terbunuh. Ada banyak kesaksian yang menyebut militer menembakkan senjata langsung ke arah demonstran, ada juga yang menyebut tembakan diarahkan ke udara. Bahkan ada yang melihat taktik curang junta militer. Mereka tidak menembak dengan senjata tapi melempari demonstran make peluru. Duh, kejam sekaliiii.. Apa engga malu ya junta itu sama teriakan dunia internasional yang minta mereka mengedepankan demonstrasi. Bahkan sejumlah negara sudah ancang-ancang menerapkan sanksi terhadap Burma. Mungkin rezim junta ini engga denger ya seruan dunia karena kabarnya disana, semua line telepon dan akses internet diblok dan engga bisa keluar.
Ah.. cukup sudah darah mengalir di Burma. Semoga Burma segera berubah menjadi lebih baik.. Apalagi aksi turun ke jalan sekarang engga hanya terjadi di Rangoon tapi juga sudah meluas ke daerah lain. Semoga para biksu yang jadi motor aksi, kian dikuatkan..
Labels:
Cerita
Tuesday, September 18, 2007
Periksa
Semalam aku kontrol ke dokter Gul. Fffuuiiihhh setelah ditunggu-tunggu, akhirnya tibalah juga saatnya ketemu dengan om dokter. Maklum, dua minggu sebelumnya om dokter lagi melawat ke luar negeri untuk sebuah tugas. Jadi ya kontrolnya mundur deh.
Seperti biasa, pasien dokter Gul juga banyak banget malem itu. Aku kebagian nomer 38. Hhhhmmm.. Padahal pas datang, baru sampe nomor 7 kalo ga salah. Wakss.. kebayang deh berapa lama nungguinnya. Tapi ya memang biasanya gitu sih ya. Tergantung daftarnya brapa hari sebelumnya. Biasanya sih, seminggu sebelumnya juga udah buka pendaftaran untuk hari H. Kalo tinggal beberapa hari menjelang hari H, kadang juga ditolak kalo kuota pasien sudah terlampaui.
Alhamdulillah kalo diitung-itung sih ga terlalu lama nunggunya. Karena ada beberapa nomor yang dilewati. Mungkin karena pas jatahnya, si pasien pas pergi atau gimana. Jadi ya sudahlah, nomor berikutnya pun maju.
Seperti biasa, pemeriksaan langsung di-USG. Dokter ngeliat-2 lagi posisi bayi. Aku, seperti biasa, juga nanya macem-macem. Posisi kaki, tangan, kepala dan perkembangan otaknya. Sekalian ngeliat brapa umur dede di peyutku. Wah ga terasa udah 22 minggu. Pergerakan bayiku, menurut dokter Gul juga termasuk aktif untuk umur segitu. Jadi dokter kemudian menyarankan supaya aku periksanya dua bulan sekali aja kalo ga ada keluhan apa-apa. Nah ini dia, meski udah kehamilan kedua, kadang kan kejadian yang masuk kategori 'apa-apa' itu suka ga paham. Tapi karena dokternya yakin, jadi aku ikutan yakin juga. Yang jelas, keluhan itu pasti sesuatu yang muncul diluar kebiasaan. Itu aja deh patokanku. Alhamdulillah sejauh ini engga ada keluhan-keluhan itu.
Periksa berikutnya berarti sekitar November. Semoga ga dapet nomor-nomor belakang deh..
Seperti biasa, pasien dokter Gul juga banyak banget malem itu. Aku kebagian nomer 38. Hhhhmmm.. Padahal pas datang, baru sampe nomor 7 kalo ga salah. Wakss.. kebayang deh berapa lama nungguinnya. Tapi ya memang biasanya gitu sih ya. Tergantung daftarnya brapa hari sebelumnya. Biasanya sih, seminggu sebelumnya juga udah buka pendaftaran untuk hari H. Kalo tinggal beberapa hari menjelang hari H, kadang juga ditolak kalo kuota pasien sudah terlampaui.
Alhamdulillah kalo diitung-itung sih ga terlalu lama nunggunya. Karena ada beberapa nomor yang dilewati. Mungkin karena pas jatahnya, si pasien pas pergi atau gimana. Jadi ya sudahlah, nomor berikutnya pun maju.
Seperti biasa, pemeriksaan langsung di-USG. Dokter ngeliat-2 lagi posisi bayi. Aku, seperti biasa, juga nanya macem-macem. Posisi kaki, tangan, kepala dan perkembangan otaknya. Sekalian ngeliat brapa umur dede di peyutku. Wah ga terasa udah 22 minggu. Pergerakan bayiku, menurut dokter Gul juga termasuk aktif untuk umur segitu. Jadi dokter kemudian menyarankan supaya aku periksanya dua bulan sekali aja kalo ga ada keluhan apa-apa. Nah ini dia, meski udah kehamilan kedua, kadang kan kejadian yang masuk kategori 'apa-apa' itu suka ga paham. Tapi karena dokternya yakin, jadi aku ikutan yakin juga. Yang jelas, keluhan itu pasti sesuatu yang muncul diluar kebiasaan. Itu aja deh patokanku. Alhamdulillah sejauh ini engga ada keluhan-keluhan itu.
Periksa berikutnya berarti sekitar November. Semoga ga dapet nomor-nomor belakang deh..
Labels:
Cerita
Ibu Hamil Silakan Berpuasa, Asal..
Para ibu hamil seringkali menghadapi dilema antara tetap menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan namun khawatir dengan kesehatan janin. Sebenarnya ibu hamil dan menyusui mendapat keringanan untuk menukar hari puasa dengan fidyah atau qo'dho (puasa di luar bulan Ramadhan) namun jika tetap ingin menunaikan ibadah karena merasa sanggup, ini dia kiat-kiatnya.
1. Konsultasikan dulu dengan dokter kandungan yang menangani. Dokter akan menilai kondisi kesehatan ibu hamil secara keseluruhan. Jika ibu hamil memiliki penyakit hipertensi, diabetes melitus, gangguan pencernaan, muntah-muntah berlebihan, atau kondisi lain yang mempengaruhi pertumbuhan janin sebaiknya jangan memaksakan diri. Bukankah memastikan janin tumbuh sehat juga merupakan ibadah?
2. Jika ibu hamil diharuskan mengonsumsi obat rutin setiap hari dan akan membahayakan janin jika ditinggalkan, lebih baik tunda dulu keinginan untuk
berpuasa.
3. Bila mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti diare, tubuh lemas, keluar keringat dingin, rahim berkontraksi, sebaiknya segera akhiri puasa Anda.
4. Jangan lupakan sahur sebagai cadangan energi seharian. Agar janin tidak kekurangan gizi perhatikan asupan makanan pada saat sahur. Usahakan agar menu sahur Anda terdiri dari karbohidrat, sayur, protein tinggi, lemak dan buah segar. Tambahkan dengan susu dan vitamin yang diberikan oleh dokter.
5. Di sela aktivitas harian, selalu sisihkan waktu untuk beristirahat, misalnya jalan kaki ringan untuk melemaskan otot kaki dan punggung, juga melancarkan peredaran darah. Jika memungkinkan gunakan waktu satu jam untuk tidur siang.
6. Saat berbuka, awali dengan yang manis untuk meningkatkan kadar gula darah, tetapi ibu hamil juga harus tetap membatasi makanan dan minuman yang manis.
7. Selain karbohidrat kompleks (seperti nasi, gandum), disarankan untuk menambah asupan makanan tinggi serat seperti sayur dan buah karena akan dicerna dalam waktu lama dan menghindari sembelit.
8. Perbanyak cairan dan air putih untuk menjaga volume darah dan mengatur suhu tubuh.
9. Jangan berpuasa jika berat badan Anda turun drastis atau usia kehamilan Anda sudah mendekati waktu melahirkan, mengingat proses persalinan membutuhkan banyak energi.
10. Jalani puasa dengan niat dan tekad yang bulat agar hari-hari berpuasa terasa ringan meski sedang berbadan dua.
1. Konsultasikan dulu dengan dokter kandungan yang menangani. Dokter akan menilai kondisi kesehatan ibu hamil secara keseluruhan. Jika ibu hamil memiliki penyakit hipertensi, diabetes melitus, gangguan pencernaan, muntah-muntah berlebihan, atau kondisi lain yang mempengaruhi pertumbuhan janin sebaiknya jangan memaksakan diri. Bukankah memastikan janin tumbuh sehat juga merupakan ibadah?
2. Jika ibu hamil diharuskan mengonsumsi obat rutin setiap hari dan akan membahayakan janin jika ditinggalkan, lebih baik tunda dulu keinginan untuk
berpuasa.
3. Bila mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti diare, tubuh lemas, keluar keringat dingin, rahim berkontraksi, sebaiknya segera akhiri puasa Anda.
4. Jangan lupakan sahur sebagai cadangan energi seharian. Agar janin tidak kekurangan gizi perhatikan asupan makanan pada saat sahur. Usahakan agar menu sahur Anda terdiri dari karbohidrat, sayur, protein tinggi, lemak dan buah segar. Tambahkan dengan susu dan vitamin yang diberikan oleh dokter.
5. Di sela aktivitas harian, selalu sisihkan waktu untuk beristirahat, misalnya jalan kaki ringan untuk melemaskan otot kaki dan punggung, juga melancarkan peredaran darah. Jika memungkinkan gunakan waktu satu jam untuk tidur siang.
6. Saat berbuka, awali dengan yang manis untuk meningkatkan kadar gula darah, tetapi ibu hamil juga harus tetap membatasi makanan dan minuman yang manis.
7. Selain karbohidrat kompleks (seperti nasi, gandum), disarankan untuk menambah asupan makanan tinggi serat seperti sayur dan buah karena akan dicerna dalam waktu lama dan menghindari sembelit.
8. Perbanyak cairan dan air putih untuk menjaga volume darah dan mengatur suhu tubuh.
9. Jangan berpuasa jika berat badan Anda turun drastis atau usia kehamilan Anda sudah mendekati waktu melahirkan, mengingat proses persalinan membutuhkan banyak energi.
10. Jalani puasa dengan niat dan tekad yang bulat agar hari-hari berpuasa terasa ringan meski sedang berbadan dua.
Labels:
Ibu dan Anak
Friday, September 14, 2007
Ramadhan Tiba
Ramadhan sudah memasuki hari kedua. Ah sudah Ramadhan lagi. Rasanya baru kemaren ya bulan puasa lalu, eh sekarang sudah ketemu lagi. Alhamdulillah dikasi kesempatan dan kesehatan untuk menikmati bulan penuh berkah ini. Tapi kali ini aku engga ikutan puasa karena dede'nya Faza baru lima bulan di peyut. Jadi pertimbangannya selain buatku sendiri juga buat si dede'.
Dulu sih pas hamil Faza aku tetep puasa. Waktu itu kehamilanku sudah masuk trimester ketiga. Dokter juga ga masalah kalo aku puasa, jadi ya aku manteb banget untuk puasa. Dan itulah pertama kalinya -sejak masa akil baligh- puasaku sama sekali engga bolong karena ga terhalang sama si bulanan. Hhhuumm.. nikmatnyaaa engga punya utang, hihihihi..
Cuma sekarang kondisinya beda yah. Si dede' baru jalan lima bulan. Denger dari penjelasan dokter dari sebuah talkshow, disarankan sih untuk trimester kedua untuk tidak puasa karena pertumbuhan organ janin masih terus berlangsung. Sementara aku juga belum bisa ketemu dokterku karena mas dokter masih tugas di LN. Baru minggu depan nih bisa ketemuan sama om dokter. Duh, ga sabar jadinya.
Tiap malem sih tetep aja aku ikutan sahur, nemenin ayahnya Faza. Cuma, ga tau deh Faza ga ikutan bangun. Padahal biasanya mah kalo denger gedubrakan, Faza ikut melek. Mungkin karena bukan jam biologisnya ya, jadi apapun yang terjadi, Faza engga terganggu, hehehehe..
Meski ga ikut puasa tapi mudah-mudahan ibadah lainnya tetep lancar. Bisa ikut menikmati Ramadhan yang penuh barokah dan semoga bisa dipertemukan dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya. Amiiinn..
Dulu sih pas hamil Faza aku tetep puasa. Waktu itu kehamilanku sudah masuk trimester ketiga. Dokter juga ga masalah kalo aku puasa, jadi ya aku manteb banget untuk puasa. Dan itulah pertama kalinya -sejak masa akil baligh- puasaku sama sekali engga bolong karena ga terhalang sama si bulanan. Hhhuumm.. nikmatnyaaa engga punya utang, hihihihi..
Cuma sekarang kondisinya beda yah. Si dede' baru jalan lima bulan. Denger dari penjelasan dokter dari sebuah talkshow, disarankan sih untuk trimester kedua untuk tidak puasa karena pertumbuhan organ janin masih terus berlangsung. Sementara aku juga belum bisa ketemu dokterku karena mas dokter masih tugas di LN. Baru minggu depan nih bisa ketemuan sama om dokter. Duh, ga sabar jadinya.
Tiap malem sih tetep aja aku ikutan sahur, nemenin ayahnya Faza. Cuma, ga tau deh Faza ga ikutan bangun. Padahal biasanya mah kalo denger gedubrakan, Faza ikut melek. Mungkin karena bukan jam biologisnya ya, jadi apapun yang terjadi, Faza engga terganggu, hehehehe..
Meski ga ikut puasa tapi mudah-mudahan ibadah lainnya tetep lancar. Bisa ikut menikmati Ramadhan yang penuh barokah dan semoga bisa dipertemukan dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya. Amiiinn..
Labels:
Cerita
Monday, September 10, 2007
Demi Jalur Busway
Senin pagi tadi barangkali seperti kata temenku di SMSnya, "penuh petaka". Hhhmmm.. mungkin ada benernya juga. SMS tadi dikirim sebagai balesan dari SMSku yang mengabarkan kalo aku kejebak macet luar biasa di tol, nyari sejam lamanya. Olala, kenapakah Senin tadi begitu luar biasa. Nyatanya, ini memang tak biasa. Semacet-macetnya hari Senin, tapi kalo ada yang ngerasain seperti pagi tadi, pastilah merasakan hal yang extra ordinary itu.
Semua itu ternyata berasal dari sebuah proyek pengecoran jalur busway. Lokasinya di sekitar Prumpung. Seorang pendengar radioku menyebutkan daerah pastinya ada di depan kantor Telkom Jakarta Timur. Weiikkss.. Pantas saja. Macetnya berbuntut sampe kemana-mana. Sepanjang bypass tentu saja sudah jaminan macet. Sampe ke UKI, Kodam dan terus sampe di jalan tol Jagorawi, bahkan tol JORR. Duhaaaiii.. kenapa kiranya pengecoran itu dilakukan di hari kerja awal pekan? Pagi hari pulak..
Sepanjang jalan yang kulewati tadi, banyak sekali petugas Jasa Marga dan polisi disana sini. Mobil derek resmi milik Jasa Marga juga sudah nangkring di pinggir jalan, demi mengantisipasi jika ada mobil yang overheat karena kelamaan mantengin jalanan yang macetnya bikin puyeng, kesel dan sebel ini.
Dan akhirnya, kelelahan, rasa sebel dan puyeng ini berahir setelah kami berjibaku di pintu tol Cililitan untuk kemudian masuk ke tol dalam kota. Nah, itu sudah jauuuuhhh lebih lumayan daripada perjuangan yang kami tempuh sebelumnya. Malah boleh dibilang bisa ngebut karena lowong. Lha gimana engga lowong, wong kendaraan tertahan di pintu keluar UKI. Dan buntutnya pun sudah sampe kemana-mana. Tol Jagorawi entah kilometer brapa udah mandheg. Sementara dari arah tol JORR pun kendaraan ada yang dialihkan petugas tol untuk masuk ke tol Jagorawi. Jadi kami tadi sempet jalan gratis di tol.
Total sekitar dua jam deh perjalanan dari rumah ke kantor. Butuh waktu dua kali lipat dari biasanya. Sungguh pagi yang melelahkan dan mengesalkan. Tadi sore sempet melintas di jalur seberang proyek busway itu, hhhmmm.. sekitar 100 meter lah yang dicor. Lokasi pastinya ada di Prumpung, kalo dari arah kantor Telkom, yang ke kiri ke arah stasiun Jatinegara, yang terus ke Pisangan. Nah disitulah titik pusatnya. Baru sore tadi aja macetnya udah puwanjaaaang banget. Gimana besok pagi yah.. Ah entahlah.. Pemprov, ga tau deh, liat apa engga insiden akibat pengecoran yang engga bilang-bilang ini.
Semua itu ternyata berasal dari sebuah proyek pengecoran jalur busway. Lokasinya di sekitar Prumpung. Seorang pendengar radioku menyebutkan daerah pastinya ada di depan kantor Telkom Jakarta Timur. Weiikkss.. Pantas saja. Macetnya berbuntut sampe kemana-mana. Sepanjang bypass tentu saja sudah jaminan macet. Sampe ke UKI, Kodam dan terus sampe di jalan tol Jagorawi, bahkan tol JORR. Duhaaaiii.. kenapa kiranya pengecoran itu dilakukan di hari kerja awal pekan? Pagi hari pulak..
Sepanjang jalan yang kulewati tadi, banyak sekali petugas Jasa Marga dan polisi disana sini. Mobil derek resmi milik Jasa Marga juga sudah nangkring di pinggir jalan, demi mengantisipasi jika ada mobil yang overheat karena kelamaan mantengin jalanan yang macetnya bikin puyeng, kesel dan sebel ini.
Dan akhirnya, kelelahan, rasa sebel dan puyeng ini berahir setelah kami berjibaku di pintu tol Cililitan untuk kemudian masuk ke tol dalam kota. Nah, itu sudah jauuuuhhh lebih lumayan daripada perjuangan yang kami tempuh sebelumnya. Malah boleh dibilang bisa ngebut karena lowong. Lha gimana engga lowong, wong kendaraan tertahan di pintu keluar UKI. Dan buntutnya pun sudah sampe kemana-mana. Tol Jagorawi entah kilometer brapa udah mandheg. Sementara dari arah tol JORR pun kendaraan ada yang dialihkan petugas tol untuk masuk ke tol Jagorawi. Jadi kami tadi sempet jalan gratis di tol.
Total sekitar dua jam deh perjalanan dari rumah ke kantor. Butuh waktu dua kali lipat dari biasanya. Sungguh pagi yang melelahkan dan mengesalkan. Tadi sore sempet melintas di jalur seberang proyek busway itu, hhhmmm.. sekitar 100 meter lah yang dicor. Lokasi pastinya ada di Prumpung, kalo dari arah kantor Telkom, yang ke kiri ke arah stasiun Jatinegara, yang terus ke Pisangan. Nah disitulah titik pusatnya. Baru sore tadi aja macetnya udah puwanjaaaang banget. Gimana besok pagi yah.. Ah entahlah.. Pemprov, ga tau deh, liat apa engga insiden akibat pengecoran yang engga bilang-bilang ini.
Labels:
Cerita
Monday, September 03, 2007
Bunda Kiki Nikah
Sebenernya akad nikahnya sudah tanggal 25 Agustus lalu. Trus ga lama setelah itu, udah kutulis awalan cerita ini. Tapi entah kenapa kok ga tersimpan di draft yah. Jadi ya, sekarang diulang lagi deh nulisnya.
Bunda Kiki nikah hari Sabtu tanggal 25 Agustus lalu. Penganten lakinya namanya Mas Bobby. Pendekatannya kayanya ga terlalu lama deh. Awalnya Mas Bobby ini temen bisnisnya Bunda Ade. Trus ya dikenalin lah ke Bunda Kiki. Trus temenan dulu. Biasa, nyaris semua temennya Bunda Ade, juga temenan sama Bunda Kiki. Apalagi kalo udah kenal baik, biasanya kan suka diajak ke rumah Nenek tuh. Nah nampaknya dari situlah kemudian tumbuh benih-benihnya, ciieehhh.. Cuma ya ga cepet karena temenannya setauku sih lamaaa dulu, baru deh menapaki babak selanjutnya.
Kami sodara kandung dan ipar Bunda Kiki berseragam kebaya warna pink ungu. Yang maek jilbab, seragam juga warnanya, unggu bermote-mote. CAntik deh. Bunda Ade dan Nenek yang beliin. Katanya sih di Cinere Mall. Wah beneran deh cantik banget. Telaten bener ya perajin jilbabnya masang satu demi satu mote di bagian kepala. Banyak banget soalnya. Sementara untuk sodara laki, dipakein baju model demang. Jadi baju dan celana trus ditengahnya dikasi kain. Yah.. mirip-mirip baju model Teluk Belango lah. Tadinya sih mau pake batik aja. Trus aku usul supaya make model Teluk Belango itu supaya kebih manteb. Lagipula kalo make batik, ntar samaan kali ngga sama yang kondangan? Hihihihi.. Trus untuk deretan ponakan Bunda Kiki, bahannya seragam warna coklat dan tambahan bros bunga. Jadi untuk Faza, kubikin model you can see trus bros bunganya ditempel di dada kiri. Pake pita di belakang dan aksen rimpel jait di bagian depan. Seruuu..
Acara nikahnya sendiri di Masjid At Taqwa Kebayoran Baru. Pagi-pagi kami udah bangun dan siap-siap. Uti dan Akung juga datang barengan Ate dan Om Ari. Kebetulan Akung juga didapuk jadi saksi nikah, barengan sama Pak Soetrisno Bachir dari pihak laki-laki. Aku sendiri seperti biasa, didaulat ngemsi. Mulai acara pengajian dan siraman di rumah sampe acara di masjid ini, akad dan syukurannya. Sementara ayahnya Faza punya tugas khusus jadi fotografer, hehehehe..
Sekitar tengah hari acara selese. Sampe rumah, hhmmm.. pada ga sabar untuk ganti baju deh. Soalnya siang gitu baru berasa gerahnya boww, hihihihi.. Bunda Kiki dan Om Bobby sendiri langsung menuju ke rumah pengantin laki. Baru sore harinya Bunda tiba-tiba muncul. Sendirian, huehehehe.. Maklum, Om Bobby lagi ada acara partainya, jadi ya rela deh abis nikah langsung ditinggal kerja, hahahaha..
Semoga Bunda Kiki dan Om Bobby menjadi keluarga sakinah, selalu dilimpahi mawaddah warohmah dan cepet dapet momongan yah.. Amieenn..
Bunda Kiki nikah hari Sabtu tanggal 25 Agustus lalu. Penganten lakinya namanya Mas Bobby. Pendekatannya kayanya ga terlalu lama deh. Awalnya Mas Bobby ini temen bisnisnya Bunda Ade. Trus ya dikenalin lah ke Bunda Kiki. Trus temenan dulu. Biasa, nyaris semua temennya Bunda Ade, juga temenan sama Bunda Kiki. Apalagi kalo udah kenal baik, biasanya kan suka diajak ke rumah Nenek tuh. Nah nampaknya dari situlah kemudian tumbuh benih-benihnya, ciieehhh.. Cuma ya ga cepet karena temenannya setauku sih lamaaa dulu, baru deh menapaki babak selanjutnya.
Kami sodara kandung dan ipar Bunda Kiki berseragam kebaya warna pink ungu. Yang maek jilbab, seragam juga warnanya, unggu bermote-mote. CAntik deh. Bunda Ade dan Nenek yang beliin. Katanya sih di Cinere Mall. Wah beneran deh cantik banget. Telaten bener ya perajin jilbabnya masang satu demi satu mote di bagian kepala. Banyak banget soalnya. Sementara untuk sodara laki, dipakein baju model demang. Jadi baju dan celana trus ditengahnya dikasi kain. Yah.. mirip-mirip baju model Teluk Belango lah. Tadinya sih mau pake batik aja. Trus aku usul supaya make model Teluk Belango itu supaya kebih manteb. Lagipula kalo make batik, ntar samaan kali ngga sama yang kondangan? Hihihihi.. Trus untuk deretan ponakan Bunda Kiki, bahannya seragam warna coklat dan tambahan bros bunga. Jadi untuk Faza, kubikin model you can see trus bros bunganya ditempel di dada kiri. Pake pita di belakang dan aksen rimpel jait di bagian depan. Seruuu..
Acara nikahnya sendiri di Masjid At Taqwa Kebayoran Baru. Pagi-pagi kami udah bangun dan siap-siap. Uti dan Akung juga datang barengan Ate dan Om Ari. Kebetulan Akung juga didapuk jadi saksi nikah, barengan sama Pak Soetrisno Bachir dari pihak laki-laki. Aku sendiri seperti biasa, didaulat ngemsi. Mulai acara pengajian dan siraman di rumah sampe acara di masjid ini, akad dan syukurannya. Sementara ayahnya Faza punya tugas khusus jadi fotografer, hehehehe..
Sekitar tengah hari acara selese. Sampe rumah, hhmmm.. pada ga sabar untuk ganti baju deh. Soalnya siang gitu baru berasa gerahnya boww, hihihihi.. Bunda Kiki dan Om Bobby sendiri langsung menuju ke rumah pengantin laki. Baru sore harinya Bunda tiba-tiba muncul. Sendirian, huehehehe.. Maklum, Om Bobby lagi ada acara partainya, jadi ya rela deh abis nikah langsung ditinggal kerja, hahahaha..
Semoga Bunda Kiki dan Om Bobby menjadi keluarga sakinah, selalu dilimpahi mawaddah warohmah dan cepet dapet momongan yah.. Amieenn..
Labels:
Cerita
Friday, August 31, 2007
Mari Merogoh Kocek Lebih Dalam
Tol JORR yang baru dan mulai berlaku Selasa pekan lalu itu memang, ffuuiihh.. beneran menggemaskan. Gimana engga. Tarif tol diberlakukan dengan sistem terbuka. Artinya, jauh dekat, sepanjang itu termasuk tol JORR, maka tagrifnya adalah sama. Ga peduli jauh atau deket jarak yang ditempuh. Kalo dulu kan biasanya besaran bayaran didasarkan pada jauh deket jarak yang ditempuh. Nah sekarang engga ada tuh aturan gitu lagi.
Nah, sebagai pengguna setia JORR, tentu saja tarif terbuka ini brasa banget. Sebabnya adalah, ya karena pengeluaran jadi naik. Biasanya kalo hari kerja, yang kutempuh adalah mulai dari tol Jatiasih dan keluar di Bambu Apus. Tarifnya tiga rebu. Nyaris ga pernah bablas dan keluar di Dukuh karena kalo jam kerja, biasanya macetnya ga tertahankan.
Nah dengan tarif terbuka sekarang, enam ribu dong hai yang mesti dikeluarkan. Ya toh. Manteb banget lah brasanya. Sejak pertama ngitung-ngitung juga udah kerasa tambahan duit yang keluar. Lha sekali jalan nambah tiga rebu gitu lo. Hari pertama pemberlakuan tarif terbuka ini. luaaarr biasa. Macet di nyaris semua pintu tol. Semua karena tertahan di pintu masuk tol. Yang biasanya cuma ngambil tiket dan baru bayar di pintu keluar, sekarang sudah mbayar sejak di pintu masuk. Alhasil, antriannya itu loooowwww, puanjaaannngg pisan. Untungnya (ah, kapan sih orang Jawa ndak pernah untung ya, hihihi..), pintu masuk tol Jatiasih ndak terlalu penuh. Tergolong biasa malah. Jalur tol juga relatif lancar hari itu. Waktu denger pantauan jalanan dari radio, weh weehh.. hiya lo, macetnya di nyaris semua ruas. Akibat kendaraan yang ngantri di pintu masuk tol, maka arteri pun kena imbasnya. Dan hari itu jadi salah satu hari yang mungkin paling banyak dijengkelin sama pengendara.
Hari berikutnya kami nyoba keluar tol Dukuh. Karena dari info yang didenger, tol yang biasanya macet luar biasa ini mulai lengang setelah diberlakukan sistem baru ini. Hhhmm.. betul ternyata. Tapi ya karena tol Dukuh ini diluar jalur Cilincing-Ulujami, maka ada tambahan seribu yang mesti kami keluarkan. Lumayan, tujuh ribu nih sekali jalan. Tapi ya berhubung jalan tol itu lancar, jadi dua hari berturut-turut kami memilih keluar di pintu tol Dukuh. Hhmm.. mungkin ada yang punya pengalaman serupa?
Ah tapi ya jangan seneng-seneng dulu. Lha Selasa 04 September mulai jam 00, tarif semua tol di Indonesia bakal naik 20 persen. 20 persen gitu loh!! Lumayan? Pasteee.. Meski ini ga ngaruh untuk tol JORR, tapi kami kan kalo pulang kantor, suka juga melewati jalan tol dalam kota. Dari yang biasaya 4500 perak, naiknya nanti jadi 5500 perak. Nambah seribu. Hhhhmmmm.. Apa ada alternatif lain? Kata pemerintah sih kira-kira begini, "Kalo tol mahal, ya jangan digunakan. Tol kan alternatif..". Heeiii.. Plis deh, moso ya begitu to ngasi jawabannya. Lha kan memang kadang tol itu jadi jalur satu-satunya jika ndak ada arteri. Coba bayangkan, kalo dari Jatiasih menuju Bambu Apus itu mesti lewat mana? Apa kami harus menerobos hutan dan sawah? Uuuffhhh.. Waktu soal ini ditanyakan sama salah satu petinggi Jasa Marga dalam wawancara di radioku, jawabannya adalah, "Baik.. Informasi itu menjadi masukan bagi kami..". Oh la la, cuma jadi informasi to ternyata.
Padahal hari-hari ini, kan ga cuma tol yang naik. Ada minyak goreng, telur, minyak tanah, kebutuhan sembako lainnya. Aaahhhhh..
Nah, sebagai pengguna setia JORR, tentu saja tarif terbuka ini brasa banget. Sebabnya adalah, ya karena pengeluaran jadi naik. Biasanya kalo hari kerja, yang kutempuh adalah mulai dari tol Jatiasih dan keluar di Bambu Apus. Tarifnya tiga rebu. Nyaris ga pernah bablas dan keluar di Dukuh karena kalo jam kerja, biasanya macetnya ga tertahankan.
Nah dengan tarif terbuka sekarang, enam ribu dong hai yang mesti dikeluarkan. Ya toh. Manteb banget lah brasanya. Sejak pertama ngitung-ngitung juga udah kerasa tambahan duit yang keluar. Lha sekali jalan nambah tiga rebu gitu lo. Hari pertama pemberlakuan tarif terbuka ini. luaaarr biasa. Macet di nyaris semua pintu tol. Semua karena tertahan di pintu masuk tol. Yang biasanya cuma ngambil tiket dan baru bayar di pintu keluar, sekarang sudah mbayar sejak di pintu masuk. Alhasil, antriannya itu loooowwww, puanjaaannngg pisan. Untungnya (ah, kapan sih orang Jawa ndak pernah untung ya, hihihi..), pintu masuk tol Jatiasih ndak terlalu penuh. Tergolong biasa malah. Jalur tol juga relatif lancar hari itu. Waktu denger pantauan jalanan dari radio, weh weehh.. hiya lo, macetnya di nyaris semua ruas. Akibat kendaraan yang ngantri di pintu masuk tol, maka arteri pun kena imbasnya. Dan hari itu jadi salah satu hari yang mungkin paling banyak dijengkelin sama pengendara.
Hari berikutnya kami nyoba keluar tol Dukuh. Karena dari info yang didenger, tol yang biasanya macet luar biasa ini mulai lengang setelah diberlakukan sistem baru ini. Hhhmm.. betul ternyata. Tapi ya karena tol Dukuh ini diluar jalur Cilincing-Ulujami, maka ada tambahan seribu yang mesti kami keluarkan. Lumayan, tujuh ribu nih sekali jalan. Tapi ya berhubung jalan tol itu lancar, jadi dua hari berturut-turut kami memilih keluar di pintu tol Dukuh. Hhmm.. mungkin ada yang punya pengalaman serupa?
Ah tapi ya jangan seneng-seneng dulu. Lha Selasa 04 September mulai jam 00, tarif semua tol di Indonesia bakal naik 20 persen. 20 persen gitu loh!! Lumayan? Pasteee.. Meski ini ga ngaruh untuk tol JORR, tapi kami kan kalo pulang kantor, suka juga melewati jalan tol dalam kota. Dari yang biasaya 4500 perak, naiknya nanti jadi 5500 perak. Nambah seribu. Hhhhmmmm.. Apa ada alternatif lain? Kata pemerintah sih kira-kira begini, "Kalo tol mahal, ya jangan digunakan. Tol kan alternatif..". Heeiii.. Plis deh, moso ya begitu to ngasi jawabannya. Lha kan memang kadang tol itu jadi jalur satu-satunya jika ndak ada arteri. Coba bayangkan, kalo dari Jatiasih menuju Bambu Apus itu mesti lewat mana? Apa kami harus menerobos hutan dan sawah? Uuuffhhh.. Waktu soal ini ditanyakan sama salah satu petinggi Jasa Marga dalam wawancara di radioku, jawabannya adalah, "Baik.. Informasi itu menjadi masukan bagi kami..". Oh la la, cuma jadi informasi to ternyata.
Padahal hari-hari ini, kan ga cuma tol yang naik. Ada minyak goreng, telur, minyak tanah, kebutuhan sembako lainnya. Aaahhhhh..
Labels:
Cerita
Monday, August 20, 2007
Semarak 17an
Faza hari ini ikutan karnaval di TPA. Udah diwanti-wanti sama Uti sejak kami nginep di Cipinang minggu lalu. Soalnya seminggu lalu, selama kami nginep di Cipinang, memang Faza masuk sekolah terus. Jadi sayang juga kalo karnaval ini Faza engga ikutan. Jadilah tadi pagi, kami siap-siap sejak pagi. Rencananya, nganter aku dulu ke kantor karena ada rapat pagi, trus abis itu ayahnya yang kebagian nganter Faza ke sekolah.
Akhir pekan lalu, saat acara 17an di kompleks rumah, Faza juga ikutan lomba dan karnaval sepeda hias. Lombanya diadain Sabtu pagi. Jadi pagi-pagi Faza udah mandi, begitupun aku. Pusatnya di depan TK Ceria. Faza berangkat duluan sama mbanya sekalian makan pagi. Waktu aku sama ayahnya sampe disana, ga taunya Faza lagi siap-siap ikutan lomba mindahin bendera. Jadi beberapa bendera ditancepin di gabus dan ditaro diatas sebuah meja. Sekitar 20 meter didepannya, ada meja lain yang juga bergabus. Nah, bendera itu tinggal dipindahin aja.
Eh ngga tau kenapa, pas dimulainya lomba itu, kan mesti cepet-cepetan tuh jadi mesti lari. Weehh lha kok Faza malah milih jalan-jalan santai. Sementara lawannya pada lari-lari kecil demi jadi yang tercepat. Udah didorong-dorong, eh kok ya tetep aja ga mempan. Malu kali..
Tapi di lomba berikut yang diikuti juga masih gitu. Lombanya adalah mindahin air pake gayung dari dalam ember ke dalam botol. Jarak dari ember ke botol juga ga terlalu jauh. Sekitar 10 meterana aja. We lha, Faza juga tetep emoh lari cepet-cepetan tuh kaya lawannya. Maunya jalan aja dan menikmati tiap kali ngucurin air dari gayung di ember ke botol. Yawis, yang jelas Faza bisa ketemua sama temen-temennya, dapet hadiah makanan minuman ringan banyak dan bisa main-main sepanjang hari Sabtu pagi itu.
Pas emaknya ikutan lomba makan pisang, itu Faza sempet nangis karena ngeliat emaknya ditutup matanya. Ya, lomba pisang itu kan ceritanya aku berpasangan sama ibu lain. Trus karena aku yang megang pisangnya, maka akulah yang ditutup matanya. Sementara si ibu pasanganku menunggu sekitar 10 meter di depan. Nah, itu sih sampe masuk final juga dan dapet juara tiga. Cuma ya itu, Faza nangisnya kedengeran pas aku ikutan lomba. Katanya sih, "Mama ga boleh ditutup dong matanya..". Huehehehe.. Faza, Faza..
Sorenya, Faza ikutan karnaval sepeda hias. Jadi bangun tidur siang, aku sama mba-mbanya Faza beberes untuk menghias sepedanya. Ayahnya nyusul belakangan, sementara Faza masih tertidur dengan lelapnya. Begitu bangun, ga brapa lama trus mandi dan brangkat ke tempat kumpul sama mbanya. Aku nyusul saat mereka uadh mulai jalan. Jalannya sih keliling kompleks aja. Ada yang mbimbing. Lumayan banyak yang ikutan dan hiasannya juga macem-macem. Seneng banget Faza ikutan karnaval begini. Tapi ya gitu, karena yang ikut juga mulai yang batita sampe yang udah SD, jadi suka dulu-duluan deh. Faza sendiri juga saking excitednya, suka meleng dan ngeliat sekelilingnya daripada liat jalan di depannya. Untung ga nabrak-nabrak deh karena mbanya juga ndampingin terus, huehehe.. Yang lain juga banyak yang didampingi. Aku juga ikutan jalan sepanjang jalur karnaval itu. Hhhmm.. lumayan lah sekalian olahraga.
Acara sore itu diakhiri dengan pembagian hadiah pemenang lomba. Lumayan, dapet piring segi empat dari lomba makan pisang berpasangan ituh, hihihihi.. Sementara Faza masih dapet juga kado sebagai peserta karnaval dan bingkisan makanan minuman lagi. Hhhhmmm.. lumayaaannn..
Akhir pekan lalu, saat acara 17an di kompleks rumah, Faza juga ikutan lomba dan karnaval sepeda hias. Lombanya diadain Sabtu pagi. Jadi pagi-pagi Faza udah mandi, begitupun aku. Pusatnya di depan TK Ceria. Faza berangkat duluan sama mbanya sekalian makan pagi. Waktu aku sama ayahnya sampe disana, ga taunya Faza lagi siap-siap ikutan lomba mindahin bendera. Jadi beberapa bendera ditancepin di gabus dan ditaro diatas sebuah meja. Sekitar 20 meter didepannya, ada meja lain yang juga bergabus. Nah, bendera itu tinggal dipindahin aja.
Eh ngga tau kenapa, pas dimulainya lomba itu, kan mesti cepet-cepetan tuh jadi mesti lari. Weehh lha kok Faza malah milih jalan-jalan santai. Sementara lawannya pada lari-lari kecil demi jadi yang tercepat. Udah didorong-dorong, eh kok ya tetep aja ga mempan. Malu kali..
Tapi di lomba berikut yang diikuti juga masih gitu. Lombanya adalah mindahin air pake gayung dari dalam ember ke dalam botol. Jarak dari ember ke botol juga ga terlalu jauh. Sekitar 10 meterana aja. We lha, Faza juga tetep emoh lari cepet-cepetan tuh kaya lawannya. Maunya jalan aja dan menikmati tiap kali ngucurin air dari gayung di ember ke botol. Yawis, yang jelas Faza bisa ketemua sama temen-temennya, dapet hadiah makanan minuman ringan banyak dan bisa main-main sepanjang hari Sabtu pagi itu.
Pas emaknya ikutan lomba makan pisang, itu Faza sempet nangis karena ngeliat emaknya ditutup matanya. Ya, lomba pisang itu kan ceritanya aku berpasangan sama ibu lain. Trus karena aku yang megang pisangnya, maka akulah yang ditutup matanya. Sementara si ibu pasanganku menunggu sekitar 10 meter di depan. Nah, itu sih sampe masuk final juga dan dapet juara tiga. Cuma ya itu, Faza nangisnya kedengeran pas aku ikutan lomba. Katanya sih, "Mama ga boleh ditutup dong matanya..". Huehehehe.. Faza, Faza..
Sorenya, Faza ikutan karnaval sepeda hias. Jadi bangun tidur siang, aku sama mba-mbanya Faza beberes untuk menghias sepedanya. Ayahnya nyusul belakangan, sementara Faza masih tertidur dengan lelapnya. Begitu bangun, ga brapa lama trus mandi dan brangkat ke tempat kumpul sama mbanya. Aku nyusul saat mereka uadh mulai jalan. Jalannya sih keliling kompleks aja. Ada yang mbimbing. Lumayan banyak yang ikutan dan hiasannya juga macem-macem. Seneng banget Faza ikutan karnaval begini. Tapi ya gitu, karena yang ikut juga mulai yang batita sampe yang udah SD, jadi suka dulu-duluan deh. Faza sendiri juga saking excitednya, suka meleng dan ngeliat sekelilingnya daripada liat jalan di depannya. Untung ga nabrak-nabrak deh karena mbanya juga ndampingin terus, huehehe.. Yang lain juga banyak yang didampingi. Aku juga ikutan jalan sepanjang jalur karnaval itu. Hhhmm.. lumayan lah sekalian olahraga.
Acara sore itu diakhiri dengan pembagian hadiah pemenang lomba. Lumayan, dapet piring segi empat dari lomba makan pisang berpasangan ituh, hihihihi.. Sementara Faza masih dapet juga kado sebagai peserta karnaval dan bingkisan makanan minuman lagi. Hhhhmmm.. lumayaaannn..
Labels:
Cerita
Friday, August 17, 2007
Semua Bergaya
Ini dari acara Festival Dunia Dongeng.
Ga ada yang pas barengan yah.. Ada malah emaknya pas sama tim marketing.
Ada juga Faza sama Namboru Cecil dan ponakannya.

Ga ada yang pas barengan yah.. Ada malah emaknya pas sama tim marketing.
Ada juga Faza sama Namboru Cecil dan ponakannya.
Labels:
Pose
Thursday, August 16, 2007
Festival Dunia Dongeng
Hari Minggu lalu, kantorku ngadai acara Festival Dunia Dongeng. Ini adalah acara untuk ketemuan dengan para pendengar program Dunia Dongeng dan warga masyarakat lainnya. Ceritanya, acara off air untuk kopi darat gitu lah.
Acaranya mulai dari Lomba Dongeng, Lomba Mewarnai, Belajar Menanam dan berbagai permainan lain. Ada juga pendongeng yang disiapkan khusus untuk acara kami ini. Kebetulan tema yang kami angkat adalah 'Anak Sahabat Lingkungan', sesuai dengan salah satu misi yang kami emban dan sedang menggiatkan penghijauan.
Aku brangkat duluan sekitar jam 7 pagi. Bareng Akung yang kebetulan mau ke Monas. Biasa, acara rutin Akung kalo akhir pekan engag ada jadwal dinas. Lumayan, sambil olahraga soalnya. Sementara Faza dan ayahnya udah kuwanti-wanti untuk datang sekitar jam 09.30 aja. Supaya ga kelamaan juga Faza nunggunya.
Sampe kantor, meski begitu pagi, ternyata udah banyak yang datang. Jadilah begitu aku mulai buka warung untuk daftar ulang para peserta lomba, itu langsung dirubung kanan kiri depan belakang. Tadinya sih masih sendirian tuh. Untung ga brapa lama ada temenku, Dessy yang ikut nemenin membagi-bagi nomor undian peserta. Makin siang, yang dateng juga tambah banyak. Bahkan banyak yang belum daftar sebelumnya, langsung daftar saat itu juga. Jadi makin rame lah..
Acara yang rencanya dimulai jam 09, molor jadi setengah sepuluhan. Ini karena nunggu peserta dan undangan yang datang. Tapi Alhamdulillah acara berjalan lancar. Anak-anak yang datang juga bersuka ria. Faza yang datang barengan ayahnya juga menikmati rangkaian acara hari itu. Meski ga ikutan lomba, tapi ikutan juga corat coret di salah satu gambar yang kukasi. Belum lagi antusiasnya begitu ngeliat balon-balon yang banyak jumlahnya. Jadilah Faza kesana kemari, menikmati acara yang digelar lesehan. Apalagi banyak temen-temennya yang meskipun usianya ga sepantaran, tetep aja bikin rame.
Stand-stand dari sponsor juga lumayan menarik peserta karena banyak yang dijual disana. Ada makanan, ada juga buku-buku dan topi-topi serta tanaman-tanaman mini yang dipajang. Meski cuaca panas, tapi itu engga mengendurkan semangat anak-anak yang datang untuk berebut aneka hadiah yang disediakan. Selain itu, mereka juga dapat jatah masing-masing dari para sponsor. Ada buku, minuman dan makanan sampe kaos-kaos dan tanaman mini. Jadi lumayan lah isian yang mereka bawa pulang.
Ffuuiihh.. Tahun depan mesti lebih baik lagi nih karean acara ini sudah ditetapkan jadi acara tahunan, melihat banyaknya sponsor yang ikut kali ini. Hhhmmm.. terima kasih semua yang sudah membantu. Juga semua yang sudah datang menyemarakkan acara..
Acaranya mulai dari Lomba Dongeng, Lomba Mewarnai, Belajar Menanam dan berbagai permainan lain. Ada juga pendongeng yang disiapkan khusus untuk acara kami ini. Kebetulan tema yang kami angkat adalah 'Anak Sahabat Lingkungan', sesuai dengan salah satu misi yang kami emban dan sedang menggiatkan penghijauan.
Aku brangkat duluan sekitar jam 7 pagi. Bareng Akung yang kebetulan mau ke Monas. Biasa, acara rutin Akung kalo akhir pekan engag ada jadwal dinas. Lumayan, sambil olahraga soalnya. Sementara Faza dan ayahnya udah kuwanti-wanti untuk datang sekitar jam 09.30 aja. Supaya ga kelamaan juga Faza nunggunya.
Sampe kantor, meski begitu pagi, ternyata udah banyak yang datang. Jadilah begitu aku mulai buka warung untuk daftar ulang para peserta lomba, itu langsung dirubung kanan kiri depan belakang. Tadinya sih masih sendirian tuh. Untung ga brapa lama ada temenku, Dessy yang ikut nemenin membagi-bagi nomor undian peserta. Makin siang, yang dateng juga tambah banyak. Bahkan banyak yang belum daftar sebelumnya, langsung daftar saat itu juga. Jadi makin rame lah..
Acara yang rencanya dimulai jam 09, molor jadi setengah sepuluhan. Ini karena nunggu peserta dan undangan yang datang. Tapi Alhamdulillah acara berjalan lancar. Anak-anak yang datang juga bersuka ria. Faza yang datang barengan ayahnya juga menikmati rangkaian acara hari itu. Meski ga ikutan lomba, tapi ikutan juga corat coret di salah satu gambar yang kukasi. Belum lagi antusiasnya begitu ngeliat balon-balon yang banyak jumlahnya. Jadilah Faza kesana kemari, menikmati acara yang digelar lesehan. Apalagi banyak temen-temennya yang meskipun usianya ga sepantaran, tetep aja bikin rame.
Stand-stand dari sponsor juga lumayan menarik peserta karena banyak yang dijual disana. Ada makanan, ada juga buku-buku dan topi-topi serta tanaman-tanaman mini yang dipajang. Meski cuaca panas, tapi itu engga mengendurkan semangat anak-anak yang datang untuk berebut aneka hadiah yang disediakan. Selain itu, mereka juga dapat jatah masing-masing dari para sponsor. Ada buku, minuman dan makanan sampe kaos-kaos dan tanaman mini. Jadi lumayan lah isian yang mereka bawa pulang.
Ffuuiihh.. Tahun depan mesti lebih baik lagi nih karean acara ini sudah ditetapkan jadi acara tahunan, melihat banyaknya sponsor yang ikut kali ini. Hhhmmm.. terima kasih semua yang sudah membantu. Juga semua yang sudah datang menyemarakkan acara..
Labels:
Cerita
Monday, August 06, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)

